Bisnis.com, PALEMBANG — Petani karet di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) diminta tidak panik menyikapi harga karet dunia yang mendadak turun tajam.
Berdasarkan data SGX-SICOM TSR 20, pada perdagangan Jumat (26/6/2026) harga penutupan tercatat sebesar 210,8 sen dolar AS per kilogram (Kg) atau setara sekitar Rp37.632 per Kg karet kering (KKK) 100% dengan asumsi kurs Rp17.852 per dolar AS.
Dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya, harga tersebut turun sekitar Rp2.189 per Kg.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel Rudi Arpian mengatakan bahwa penurunan harga yang terjadi lebih kepada koreksi pasar yang lazim dalam perdagangan komoditas global, daripada sinyal terjadinya krisis di sektor karet.
"Penurunan ini perlu dilihat secara proporsional. Setelah mengalami kenaikan cukup kuat sejak April hingga pertengahan Juni, pasar memang rentan mengalami profit taking atau aksi ambil untung oleh pelaku pasar," ujarnya.
Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang mendorong pelemahan harga karet dunia. Selain aksi ambil untung investor menjelang akhir pekan, pasar juga dibayangi kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global yang berpotensi menekan permintaan dari industri otomotif dan ban, terutama di negara-negara konsumen utama seperti China.
Baca Juga
- Industri Karet Sumsel Dibayangi Konflik Timur Tengah
- Petani Sumsel Justru Waspadai Hal Ini Meski Harga Karet Naik
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah pergerakan harga minyak dunia. Sebagai komoditas yang berkaitan erat dengan industri karet sintetis dan manufaktur ban, perubahan sentimen pada pasar energi kerap berdampak pada perdagangan karet alam.
Dari sisi pasokan, sejumlah wilayah produsen juga mulai memasuki periode peningkatan produksi.
“Sehingga, bertambahnya pasokan di tengah permintaan yang belum menunjukkan penguatan signifikan turut memberikan tekanan terhadap harga,” tuturnya.
Meskipun demikian, Rudi menegaskan bahwa tren harga karet dalam beberapa bulan terakhir masih lebih baik dibandingkan kondisi pada awal April 2026.
"Kalau dilihat dalam perspektif yang lebih panjang, harga saat ini masih berada pada level yang relatif baik. Karena itu petani tidak perlu panik menghadapi koreksi harian seperti ini," katanya.
Oleh karena itu, dia menilai, perhatian petani seharusnya lebih difokuskan pada peningkatan kualitas bahan olah karet rakyat (bokar) agar memperoleh harga jual yang lebih kompetitif.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kadar karet kering (KKK), menjaga kebersihan bokar, serta memperkuat peran Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) untuk meningkatkan transparansi harga dan posisi tawar petani.
Selain itu, pengembangan industri hilir karet di dalam negeri dinilai menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan baku dan meningkatkan nilai tambah yang diterima petani.
"Kenaikan dan penurunan harga adalah bagian dari siklus pasar. Yang terpenting adalah bagaimana petani tetap meningkatkan kualitas dan efisiensi usaha agar manfaat ekonomi yang diperoleh semakin besar," pungkasnya.





