Bisnis.com, JAKARTA — Emiten komponen otomotif, PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM) mengungkapkan sejumlah tantangan yang tengah membayangi industri komponen otomotif nasional, mulai dari perlambatan permintaan, ketatnya persaingan usaha, hingga ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Wakil Direktur Utama SMSM, Ang Andri Pribadi mengatakan kondisi industri saat ini menuntut pelaku usaha untuk mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi, baik dari sisi pasar maupun kebijakan.
"Selain itu, dinamika regulasi yang mengharuskan pelaku usaha untuk terus beradaptasi. Dalam menghadapi kondisi tersebut, diversifikasi pasar menjadi salah satu kekuatan utama SMSM," ujar Andri kepada Bisnis, Kamis (25/6/2026).
Menurut dia, strategi diversifikasi pasar yang dijalankan perusahaan menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja di tengah berbagai tantangan industri. Saat ini, sekitar 65% pendapatan SMSM berasal dari pasar ekspor dengan jangkauan pemasaran yang telah mencakup lebih dari 125 negara.
Andri menjelaskan, penyebaran pasar ke berbagai negara tersebut membantu perseroan menjaga stabilitas pertumbuhan usaha sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kondisi ekonomi maupun permintaan di wilayah tertentu.
Pernyataan itu disampaikan di tengah mencuatnya kabar mengenai relokasi produksi dua perusahaan komponen otomotif asal Jepang yang beroperasi di Pasuruan dan Mojokerto ke Vietnam. Isu tersebut juga memunculkan kekhawatiran terkait potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan pekerja.
Baca Juga
- Mensesneg: 2 Perusahaan Otomotif Jepang Tunda Relokasi ke Vietnam
- Pabrik Otomotif Pindah ke Vietnam, Toyota (TMMIN) Soroti Daya Saing RI
- 2 Pabrik Otomotif Relokasi ke Vietnam, FSPMI: 5.000 Buruh Terancam PHK
Menanggapi perkembangan tersebut, SMSM menilai perpindahan sebagian kapasitas produksi ke negara lain merupakan bagian dari dinamika kompetisi investasi di kawasan Asean yang perlu dicermati.
"Relokasi sebagian produsen ke negara lain seperti Vietnam tentu menjadi bagian dari dinamika persaingan regional yang kami perhatikan," jelasnya.
Meski demikian, Andri berpandangan Indonesia masih memiliki keunggulan kompetitif yang cukup kuat, terutama karena didukung besarnya pasar domestik dan kebutuhan pembangunan infrastruktur yang terus berkembang.
Perseroan juga tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang industri otomotif nasional. Sebagai negara kepulauan dengan aktivitas transportasi dan logistik yang besar, Indonesia dinilai masih menawarkan peluang pasar yang menjanjikan bagi industri otomotif maupun komponen.
"Fokus kami adalah terus meningkatkan daya saing melalui kualitas produk, efisiensi operasional, dan penguatan jaringan pemasaran global," jelasnya.
Dari sisi kinerja keuangan, SMSM mencatat penjualan neto sebesar Rp5,33 triliun sepanjang 2025, naik 3,36% secara tahunan dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai Rp5,16 triliun. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 9,81% menjadi Rp1,12 triliun dari Rp1,02 triliun pada tahun sebelumnya.





