jpnn.com - JAKARTA - Asiana Technologies resmi memperkenalkan teknologi Waste-to-Fuel (WTF), sebuah inovasi yang mengubah limbah padat menjadi bahan bakar alternatif bernilai kalor tinggi.
Teknologi ini hadir sebagai solusi atas dua persoalan besar yang dihadapi Indonesia, yakni meningkatnya volume sampah yang belum tertangani secara optimal serta tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
BACA JUGA: Top, Asiana Technologies Lestary Garap Proyek Pengendali Banjir di Filipina
Melalui fasilitas pengolahan limbah yang telah dikembangkan, Asiana Technologies mampu mengonversi berbagai jenis limbah padat menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan nilai kalor di atas 3.500 Kcal/Kg. Bahan baku yang dapat diolah mencakup sampah rumah tangga, sampah dari tempat pembuangan akhir (landfill), pasar tradisional dan modern, limbah industri, perkebunan, pertanian hingga peternakan.
"Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah di berbagai daerah, tetapi juga menyediakan pasokan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan bagi sektor industri," kata Inventor sekaligus CEO Asiana Technologies, Poltak Sitinjak, Senin (29/6).
BACA JUGA: Sarasehan Ulama Bedah Krisis Sampah Indonesia, MUI: APBN Jangan Hanya Untungkan Investor
Sebagai bentuk implementasi di lapangan, Asiana Technologies telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif. Di antaranya kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam pengelolaan sampah di TPA Burangkeng, Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk TPA Sarimukti, serta sejumlah pemerintah daerah lainnya.
"Kami percaya bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari energi baru," ujarnya.
BACA JUGA: Permasalahan Sampah Bakal Rampung pada 2029
Melalui teknologi Waste-to-Fuel yang kami kembangkan, Asiana Technologies tidak hanya membantu mengurangi volume limbah di berbagai sektor, tetapi juga menghadirkan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan bagi berbagai industri, mulai dari pembangkit listrik, industri semen, petrokimia, keramik, kaca hingga baja
Di sisi hilir, perusahaan juga telah menandatangani kerja sama penjualan bahan bakar alternatif dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Melalui kerja sama tersebut, Asiana Technologies akan memasok hingga 10.000 ton bahan bakar alternatif per hari untuk lima pabrik Indocement yang beroperasi di lima provinsi di Indonesia.
Teknologi Waste-to-Fuel yang dikembangkan Asiana Technologies mengusung prinsip ekonomi sirkular (circular economy), yakni memanfaatkan kembali limbah sebagai sumber daya bernilai ekonomi sekaligus menekan emisi karbon.
Bahan bakar alternatif yang dihasilkan diklaim memiliki karakteristik kompetitif sehingga dapat menjadi substitusi, baik sebagian maupun sepenuhnya, terhadap penggunaan bahan bakar konvensional di berbagai sektor industri.
Dengan memanfaatkan beragam sumber limbah, mulai dari sampah rumah tangga hingga landfill, perusahaan optimistis dapat mendukung pemerintah maupun pelaku industri dalam mempercepat pencapaian target Net Zero Emission (NZE) melalui penyediaan energi yang lebih berkelanjutan.
Asiana Technologies merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan fokus pada pengembangan solusi Waste-to-Fuel, yaitu teknologi konversi limbah menjadi bahan bakar alternatif.
Perusahaan berkomitmen menghadirkan inovasi pengelolaan sampah yang mendukung keberlanjutan lingkungan, pengurangan emisi karbon, serta pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia. (esy/jpnn)
Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Mesyia Muhammad




