Wali Kota Jepang Shoko Kawata mengumumkan akan mengambil cuti melahirkan. Keputusannya ini menimbulkan beragam tanggapan masyarakat Jepang.
Shoko Kawata menyampaikan perihal cuti itu ke dewan kota di Yawata-sebuah kota di wilayah barat Jepang-. Dia mengatakan yakin wakilnya mampu menjalankan roda pemerintahan dengan lancar selama ia tidak bertugas.
"Saya tidak menyangka hal ini akan menjadi begitu kontroversial," ujar Kawata dilansir The Guardian, Selasa (30/6/2026).
"Masih ada anggapan bahwa dalam dunia kerja, seseorang harus mengorbankan kehidupan pribadinya demi mengabdikan diri pada karier," imbuhnya.
Kawata saat ini berusia 35 tahun. Dia adalah wali kota petahana pertama yang mengambil cuti tersebut.
"Saya mendapat kesan bahwa banyak orang di dunia maya baru mulai bisa menerima hal ini," kata Kawata mengenai langkah yang diambilnya.
"Bagi laki-laki, proses melahirkan tidak berdampak secara fisik pada tubuh mereka, jadi secara teknis mereka bisa terus bekerja sembari mengesampingkan kehidupan pribadi," tambahnya.
"Namun bagi perempuan, secara fisik, hal itu sama sekali tidak mungkin dilakukan," imbuhnya.
Karena ini merupakan kasus pertama di mana seseorang dalam posisinya mengambil cuti melahirkan, Kawata menyusun rencananya sendiri. Mengikuti standar nasional, ia berencana untuk kembali bekerja pada bulan Desember.
Mengingat ini adalah anak pertamanya, Kawata tidak bisa memastikan apa yang akan dihadapinya, namun ia berharap keputusannya dapat menginspirasi perempuan lain untuk terjun ke dunia politik di Jepang.
"Jika semakin banyak perempuan yang terlibat dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan, kita akan mampu menerapkan lebih banyak sistem sosial yang mendukung keseimbangan antara karier dan kehidupan keluarga," katanya.
(zap/whn)





