jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar Beniyanto Tamoreka mendukung langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang mendorong percepatan pengembangan Program E20 melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin melalui pemanfaatan bioetanol berbasis sumber daya dalam negeri.
BACA JUGA: Banyak Daerah Sulit Gaji PPPK Saat Akhir Tahun, Komisi II Cari Formulasi Pembiayaan
Beniyanto mengapresiasi arahan Menteri ESDM dalam Sarasehan Nasional Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 yang menekankan pentingnya membangun ekosistem bioetanol nasional secara terintegrasi.
Dia menilai kebutuhan bioetanol yang diproyeksikan mencapai sekitar 4 juta kiloliter untuk mendukung implementasi Program E20 menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan industri bioenergi yang berdaya saing sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian nasional.
BACA JUGA: Program CNG 3 Kilogram Harus Didukung Regulasi DMO Gas Bumi, Begini Penjelasannya
"Kami mendukung penuh langkah Menteri ESDM dalam mempersiapkan Program E20. Kebijakan ini bukan hanya tentang penyediaan energi yang lebih bersih, tetapi juga merupakan strategi memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi impor bensin, serta mendorong tumbuhnya industri bioetanol berbasis potensi sumber daya dalam negeri," ujar Beniyanto dalam keterangan tertulis pada Selasa (30/6/2026).
Menurut Beniyanto, meningkatnya kebutuhan bioetanol akan memberikan dampak positif terhadap berbagai komoditas pertanian seperti singkong, tebu, jagung, sorgum, maupun tanaman lain yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol.
BACA JUGA: Asiana Technologies Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Dengan demikian, Program E20 tidak hanya menjadi kebijakan di sektor energi, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi pedesaan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
"Kami melihat program ini akan memberikan multiplier effect yang sangat besar. Permintaan terhadap singkong, tebu, jagung, sorgum, dan komoditas lainnya tentu akan meningkat. Apalagi pemerintah mendorong pengembangannya melalui pola kemitraan inti-plasma. Model seperti ini akan memberikan kepastian pasar bagi petani, memperkuat industri pengolahan di daerah, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar," lanjutnya.
Beniyanto menambahkan daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian, termasuk Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara, serta berbagai wilayah lainnya, berpeluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru apabila pengembangan bioetanol dilakukan secara terintegrasi mulai dari budi daya, pengolahan, hingga pemasaran hasil produksinya.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam riset dan inovasi sebagaimana didorong Menteri ESDM juga akan mempercepat lahirnya teknologi yang lebih efisien dan meningkatkan daya saing industri bioenergi nasional.
Legislator asal Sulawesi Tengah juga mengapresiasi komitmen pemerintah yang akan berperan sebagai off-taker atau penjamin pasar bagi produksi bioetanol nasional.
Menurutnya, kepastian pasar merupakan faktor penting untuk menarik investasi, memberikan keyakinan kepada petani dan pelaku usaha, serta mempercepat terbentuknya ekosistem industri bioetanol yang berkelanjutan.
Sebagai mitra kerja Kementerian ESDM, Komisi XII DPR RI akan terus mendukung berbagai kebijakan yang memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Beniyanto berharap Program E20 dapat dipersiapkan secara matang dan dilaksanakan secara bertahap sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani, menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi impor BBM, serta memperkuat ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.(fri/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Dorong Kolaborasi dan Gaya Hidup Sehat, GP NasDem Padel Cup Jadi Ruang Bangun Jejaring Positif
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




