Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja IHSG cenderung melemah pada semester I/2026. Namun, sejumlah saham masih mampu menopang laju indeks, seperti PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), hingga PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan semester I/2026 di level 5.643,19 atau merosot 34,74% secara year-to-date (YTD) hingga 30 Juni 2026.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham SMMA menjadi kontributor terbesar terhadap IHSG sepanjang tahun ini dengan sumbangan 51,39 poin setelah harga sahamnya melesat 50,86% secara YTD.
Di posisi berikutnya terdapat PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA) yang menyumbang 9,97 poin, disusul ADRO sebesar 8,55 poin, PT Bank Mega Tbk. (MEGA) sebesar 7,12 poin, serta MAPI yang memberikan kontribusi 6,57 poin terhadap indeks.
Kontributor positif lainnya berasal dari PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Bhakti Multi Artha Tbk. (BHAT), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), PT Bintang Oto Global Tbk. (BOGA), dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN).
Di sisi lain, tekanan terhadap IHSG justru datang dari saham-saham berkapitalisasi besar. Entitas Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menjadi penekan terbesar indeks dengan kontribusi negatif 286,57 poin seiring anjloknya harga saham hingga 80,32% secara YTD.
Baca Juga
- IHSG Ditutup Ambles 3,05% ke 5.643, Saham Big Caps Berguguran
- Menanti Titik Balik IHSG: Berburu Saham Murah di Paruh Kedua 2026
- Saham IPO Jadi Magnet Investor Ritel di Tengah Lesunya IHSG
Setelah DSSA, pelemahan terbesar berasal dari PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang memangkas IHSG sebesar 244,39 poin, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) 238,27 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) 145,96 poin, serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) 118,30 poin.
Tekanan juga datang dari PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT MD Pictures Tbk. (FILM), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).
Selain IHSG, indeks-indeks utama lainnya juga mencatat pelemahan tajam sepanjang semester I/2026. Indeks LQ45 turun 34,67%, IDX30 melemah 28,12%, sedangkan IDX80 terkoreksi paling dalam sebesar 37,54%.
Selama periode tersebut, investor asing membukukan jual bersih (net sell) Rp73,61 triliun, mencerminkan derasnya arus keluar modal dari pasar saham domestik.
Top 10 Saham Pendorong IHSG (YTD hingga 30 Juni 2026)- SMMA: +51,39 poin IHSG (harga saham +50,86%)
- CASA: +9,97 poin (harga saham +11,80%)
- ADRO: +8,55 poin (harga saham +24,86%)
- MEGA: +7,12 poin (harga saham +19,58%)
- MAPI: +6,57 poin (harga saham +30,90%)
- MDKA: +3,67 poin (harga saham +6,14%)
- BHAT: +3,45 poin (harga saham +38,28%)
- AADI: +2,50 poin (harga saham +11,47%)
- BOGA: +2,32 poin (harga saham +34,53%)
- BDMN: +2,09 poin (harga saham +51,82%)
- DSSA: -286,57 poin IHSG (harga saham -80,32%)
- BREN: -244,39 poin (harga saham -68,14%)
- BBCA: -238,27 poin (harga saham -31,27%)
- BBRI: -145,96 poin (harga saham -25,41%)
- TLKM: -118,30 poin (harga saham -32,47%)
- BRPT: -113,76 poin (harga saham -60,70%)
- TPIA: -110,66 poin (harga saham -76,36%)
- AMMN: -100,95 poin (harga saham -51,75%)
- FILM: -100,22 poin (harga saham -89,28%)
- BMRI: -97,58 poin (harga saham -24,51%)
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mengatakan koreksi tajam IHSG dipicu kombinasi empat faktor yang meningkatkan premi risiko (risk premium) Indonesia di mata investor global.
Menurutnya, faktor pertama adalah meningkatnya risiko fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik Amerika Serikat dan Iran. Sebagai negara pengimpor minyak bersih (net importer), Indonesia dinilai rentan terhadap kenaikan harga energi.
Faktor kedua ialah menurunnya kepastian kebijakan pemerintah, termasuk perubahan kebijakan royalti pertambangan yang berulang dan munculnya wacana ekspor satu pintu.
Ketiga, outlook negatif terhadap utang pemerintah dari lembaga pemeringkat global Moody's dan Fitch Ratings turut memperburuk persepsi investor. Adapun faktor keempat berasal dari keputusan MSCI yang mengeluarkan enam saham berkapitalisasi besar Indonesia dari indeks acuannya.
"Arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia yang mencapai sepanjang tahun ini mencerminkan proses pengurangan risiko (de-risking) oleh investor asing," ujar Erindra.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pelemahan IHSG lebih dipengaruhi persoalan domestik dibandingkan sentimen global.
Menurutnya, ketika pasar saham Indonesia terkoreksi tajam, sejumlah bursa di kawasan Asia justru mampu bertahan bahkan menguat di tengah ketidakpastian geopolitik.
"Pasar modal Indonesia sedang dihukum investor global bukan karena ekonominya tidak tumbuh, melainkan karena masalah transparansi kepemilikan saham (free float) yang disorot MSCI serta kekhawatiran atas disiplin anggaran fiskal," kata Nafan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





