PT Bach Multi Global Tbk (BACH) bersiap melaksanakan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) senilai Rp 271,83 miliar. Namun, di balik aksi korporasi tersebut, terdapat langkah strategis lain yang menarik perhatian pasar, yakni rencana pengambilalihan kendali perseroan oleh entitas yang terafiliasi dengan keluarga Hartono, pemilik Grup Djarum.
Berdasarkan prospektus perusahaan, Bach Multi Global menetapkan harga IPO di level Rp 442 per saham. Angka itu tepat di kisaran tengah rentang penawaran Rp 400–Rp 500 per saham.
Perseroan menawarkan sebanyak 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Meski semula dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juli 2026, jadwal pencatatan saham perseroan mundur menjadi 8 Juli 2026.
Yang menarik, jauh sebelum IPO dilaksanakan, dua pemegang saham utama Bach Multi Global telah menyiapkan skema perubahan pengendalian. Pada 7 Januari 2026, PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) dan PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) menandatangani perjanjian opsi yang memberikan hak kepada GTP untuk meningkatkan kepemilikannya menjadi 51% setelah IPO.
Selanjutnya, pada 13 Maret 2026, GTP menyatakan akan melaksanakan hak opsi tersebut dengan membeli 1,04 miliar saham milik BMSI melalui mekanisme crossing di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia. Harga pelaksanaan transaksi akan ditentukan setelah proses bookbuilding IPO selesai.
Apabila transaksi tersebut terlaksana, kepemilikan GTP akan meningkat dari 30% menjadi 51%, sementara kepemilikan BMSI turun dari 61,55% menjadi 26,77%.
Tak hanya itu, pada 18 Juni 2026, kedua pihak juga menandatangani perjanjian pengalihan hak suara. Saat itu BMSI mengalihkan hak suara atas seluruh 61,55% saham yang dimilikinya kepada GTP.
Berdasarkan prospektus, pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) melalui GTP adalah Martin Basuki Hartono dan Victor Rachmat Hartono. Keduanya merupakan dua tokoh generasi ketiga keluarga Hartono, pewaris kerajaan bisnis Grup Djarum dan putra konglomerat Budi Hartono.
Jejak Grup Djarum di Bach Multi GlobalKeterkaitan Grup Djarum dengan Bach Multi Global juga tercermin dari susunan pengurus perseroan. Komisaris Utama Bach Multi Global dijabat Anita Anwar, yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), Direktur PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), serta Komisaris Utama PT Remala Abadi Tbk (DATA).
Adapun jajaran direksi Bach Multi Global dipimpin oleh Budi Kurniawan sebagai Direktur Utama. Ia didampingi Hasby Jap, Julius Irwandi, Irvan Rianto, dan Audia Michael Septian.
Sebelum IPO, Bach Multi Sukses Investama menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 61,55%, sedangkan GTP menguasai 30% saham. Sisanya dimiliki oleh sejumlah pemegang saham individu dengan porsi masing-masing di bawah 3%.
Setelah IPO dan pelaksanaan opsi saham, struktur kepemilikan perseroan akan berubah signifikan dengan GTP menjadi pemegang saham mayoritas.
Berikut jajaran dewan komisaris dan direksi perusahaan:
Dewan Komisaris:
- Komisaris Utama : Anita Anwar
- Komisaris Independen : Daniel Gunawan
- Komisaris : Hartanto Rahardja
Direksi:
- Direktur Utama : Budi Kurniawan
- Direktur : Hasby Jap
- Direktur : Julius Irwandi
- Direktur : Irvan Rianto
- Direktur : Audia Michael Septian
Adapun seluruh dana hasil penawaran umum perdana saham setelah dikurangi biaya emisi, sebesar Rp 91,02 miliar akan digunakan untuk melunasi sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk yang berasal dari fasilitas pinjaman jangka pendek omnibus revolving loan dengan penarikan bertahap pada periode Januari hingga Maret 2026.
Sisanya, dana sekitar Rp 213,48 miliar digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset yang akan dijual maupun disewakan kembali oleh perseroan.
“Apabila dana hasil IPO tersebut tidak mencukupi untuk membiayai rencana penggunaan dana, maka sumber lain yang menjadi alternatif adalah dari dana internal Perseroan dan/atau pinjaman kepada pihak ketiga,” tulis prospektus.
Setelah IPO, perseroan berencana membagikan dividen kas hingga maksimal 50% dari laba bersih mulai tahun 2027 dengan dasar kinerja tahun buku 2026.
Apabila RUPS menyetujui pembagian dividen, perseroan akan menyalurkannya kepada seluruh pemegang saham yang tercatat pada tanggal pencatatan yang berhak menerima dividen, setelah memperhitungkan pajak sesuai ketentuan yang berlaku.
“Direksi dapat mengubah kebijakan dividen sewaktu-waktu sepanjang mendapat persetujuan dari para pemegang saham dalam RUPS,” demikian tertulis dalam prospektus.
Dari sisi kinerja, Bach Multi Global membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba yang signifikan pada 2025. Pendapatan neto perseroan naik 39,66% menjadi Rp1,73 triliun pada 2025, dari Rp1,24 triliun pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan bisnis penjualan dan penyewaan genset. Sejalan dengan itu, laba tahun berjalan melonjak 97,54% menjadi Rp155,55 miliar pada 2025, dibandingkan Rp78,74 miliar pada 2024.
Dengan potensi masuknya keluarga Hartono sebagai pengendali baru, IPO Bach Multi Global bukan hanya menjadi aksi penghimpunan dana segar, tetapi juga menandai masuknya keluarga Hartono melalui GTP menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian pasar dalam IPO Bach Multi Global




