Para pengembang menghadapi tantangan yang tak mudah dalam meningkatkan kinerja penjualan rumah pada 2026. Salah satu penyebabnya adalah indikasi menurunnya daya beli.
CEO Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, memaparkan penjualan rumah di Jabodetabek pada semester I 2026 mencapai 5.100 unit atau masih meningkat 10 persen dibanding semester I 2025 yang ada di 4.600 unit.
Dari total 5.100 unit rumah terjual di semester I 2026 tersebut, apabila dipecah per kuartal terjadi penurunan dari 2.600 unit pada kuartal I 2026 ke 2.500 unit di kuartal II 2026.
"Kami memprediksikan akan terjadi tren penurunan penjualan hingga akhir tahun ini, terutama dikarenakan pelemahan ekonomi dan pengembang menunda launching produk baru, serta kenaikan suku bunga yang akan mempengaruhi daya beli," kata Hendra di Kantor Leads Property, Sudirman, Jakarta, Rabu (1/7).
Selain itu, Hendra mengungkapkan meningkatnya biaya konstruksi menjadi permasalahan yang saat ini terjadi di sektor properti.
“Biaya konstruksi yang meningkat, harga jual hunian berpotensi naik sehingga akan mengurangi laju penyerapan,” ujar Hendra.
Hendra mengatakan persoalan ketidakpastian daya beli itu bisa juga berimbas ke kemungkinan revisi pembiayaan pembangunan. Sehingga bisa berdampak ke tertundanya peluncuran proyek baru.
“Pembiayaan proyek melalui pinjaman bank menjadi lebih sulit karena biaya bunga menjadi lebih tinggi,” ungkap Hendra.
Hendra tak heran hal itu membuat pengembangan berskala township atau konsep hunian di dalam kawasan terpadu semakin terbatas. Perumahan dengan spesifikasi barang impor juga semakin terbatas imbas meningkatnya biaya.
“Berkurangnya aplikasi KPR karena pembeli khawatir akan kemungkinan PHK dan bunga yang makin tinggi,” ungkap Hendra.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Hendra mengungkapkan masih ada peluang yang bisa dimaksimalkan khususnya untuk para pengembang. Ia mencontohkan rumah dan unit kondominium ready stock dengan harga lama akan lebih terserap atau masih diminati.
“Pasar sekunder semakin diminati karena langsung dapat dihuni di lokasi yang sama,” terang Hendra.
Hendra mendorong para pengembang juga bisa memaksimalkan peluang proyek joint venture baik dengan pengembang lokal maupun asing. Selain itu, skema sewa harus lebih diperhatikan lagi.
“Skema sewa di lokasi strategis menjadi opsi yang lebih menarik bagi calon pembeli dan juga bagi pengembang,” ujar Hendra.
Hendra menuturkan pengembang juga bisa beralih ke skala townhouse dan klaster. Pengembang bisa mulai membidik lahan pengembangan yang dekat dengan kawasan Transit Oriented Development (TOD).
“Rumah hemat energi lebih diminati, tidak harus mewah,” tutur Hendra.





