Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja emiten berbasis emas di pasar modala RI, kini dibayangi oleh sentimen kian tidak bertenaganya harga emas sepanjang paruh pertama 2026. Emas yang sempat berkilau sepanjang 2025, kini mengalami nasib berbeda dan berisiko memberikan tekanan terhadap kinerja emiten terkait.
Data Trading Economics, menunjukkan harga emas telah terkoreksi dari level US$4.446 pada awal tahun, menuju level US$4.031,4 pada perdagangan kemarin. Dengan kata lain, emas telah terkoreksi 9,33% sepanjang 2026.
Berbeda nasib pada tahun lalu, saat sepanjang 2025 harga emas mampu mencatatkan penguatan 61,34% dari US$2.685 per troy ounce menjadi US$4.332 di akhir tahun.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong, menerangkan koreksi terhadap harga emas global pada paruh pertama 2026, lebih disebabkan oleh penguatan dolar AS dan aksi ambil untung dari reli harga emas beberapa tahun belakangan.
Investor disebut mengalihkan dananya dari aset safe haven menuju dolar AS yang perkasa dalam beberapa bulan terakhir.
”Saya melihat sementara ini terjadi aksi ambil untung besar-besaran karena kenaikannya spektakuler ya. Jadi biarpun dihitung harga sekarang pun masih double dibandingkan dua tahun lalu,” katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Baca Juga
- Rapor Kinerja Saham Sektoral Semester I/2026: Energi & Properti Paling Boncos
- Pilah-pilih Sektor Saham Potensial Cuan Semester II/2026, Komoditas hingga Perbankan
- Ramalan Harga Emas Bank Sentral 12 Bulan ke Depan
Selain itu, fenomena AI booming juga dinilai menjadi salah satu penyebab anjloknya harga emas belakangan. Investor disebut berbondong-bondong memindahkan dananya ke sektor yang tengah mendapatkan cerita pertumbuhan dalam beberapa tahun belakangan.
Meski demikian, harga emas diperkirakan masih memiliki ruang penguatan hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut didukung oleh sikap bank sentral Amerika Serikat yang masih cenderung hawkish serta ketidakpastian geopolitik yang melibatkan Iran dan AS.
”Saya melihatnya masih ada kemungkinan besar ke sekitar US$4.600—US$4.800. Jadi tetap di bawah US$5.000 untuk perkembangan saat ini. Kita bisa lihat kalau The Fed juga masih tetap hawkish, ekspektasi suku bunga malah terus naik,” katanya.
Di sisi lain, meningkatnya risiko inflasi global membuat investor dinilai semakin selektif dalam menambah kepemilikan emas sebagai aset safe haven. Kondisi ini tidak terlepas dari lonjakan harga emas yang telah berlangsung signifikan dibandingkan dengan dua tahun terakhir.
Kendati demikian, Lukman berpandangan bank-bank sentral akan terus mempertahankan pembelian emas fisik secara konsisten. Dengan demikian, permintaan fisik terhadap logam mulia tersebut diperkirakan tetap kuat pada periode mendatang.
”Kalau kita mengharapkan kenaikan spektakuler seperti sebelumnya, mungkin tidak akan terjadi. Tapi semuanya bisa terjadi, soalnya permintaan bank sentral masih akan tetap support, tetapi dari sana idealnya harga emas akan naik secara bertahap, tidak seperti dua tahun terakhir,” tegasnya.
Direktur Utama Doo Financial Futures Ariston Tjendra, turut menerangkan sepanjang paruh pertama 2026, aksi transaksi komoditas di Doo Financial mendominasi total aktivitas transaksi. Pergerakan harga emas yang volatil dinilai menjadi daya tarik transaksi di perusahaan berjangka ini.
Bahkan di paruh kedua 2026, Ariston memprediksi transaksi komoditas masih akan mendominasi aktivitas di Doo Financial.
”Saya rasa komoditas masih mendominasi, tidak akan bisa disaingin. Emasnya sendiri itu lebih dikenal di masyarakat dan dari pergerakan volatilitas harga karena di transaksi berjangka ini yang ditransaksikan itu naik turunnya harga. Karena volatilitas emas besar, jadi peluang mendapatkan profit juga lebih besar,” katanya pada kesempatan yang sama.
Nasib Emiten EmasSenior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, memproyeksikan laba bersih emiten emas akan tetap tumbuh secara solid sepanjang tahun ini. Meskipun begitu, soliditas ini diramal tidak melebihi laju kinerja fundamental emiten sepanjang tahun lalu.
Kendati harga emas belakangan mengalami koreksi tajam, Nafan masih cukup optimistis terhadap prospek fundamental emiten. Hal itu salah satunya didasari oleh kinerja nilai tukar rupiah yang lesu, sehingga emas bertindak sebagai natural hedge bagi masyarakat.
”Jika nilai tukar rupiah terdepresiasi, emas akan bertindak sebagai natural hedge. Harga emas dunia terkoreksi, tapi pelemahan nilai tukar rupiah bisa otomatis mendongkrak average selling price [emiten],” katanya, Kamis (2/7/2026).
Selain itu, Nafan menilai permintaan fisik emas juga masih solid secara jangka panjang. Dia mengutip World Gold Council yang menilai permintaan emas fisik oleh bank sentral dan investor masih cenderung tinggi.
Soliditas fundamental emiten emas juga disumbangkan dari moncernya kinerja perseroan sepanjang kuartal I/2026. Emiten dinilai memiliki buffer yang cukup tebal jika harga emas mengalami penurunan di sisa tahun.
”Secara kumulatif tahun penuh 2026, laba bersih emiten emas diproyeksikan tetap tumbuh positif, tetapi dengan laju yang lebih moderat dibandingkan lonjakan tahun lalu,” kata Nafan.
Selain pergerakan harga, emiten emas dalam negeri juga dihadapkan pada persoalan konsistensi menjaga volume produksi, arah kebijakan domestik, hingga risiko kenaikan biaya energi yang mempertipis margin keuntungan.
Menurutnya, emiten dengan kapasitas peningkatan volume produksi yang stabil seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) atau PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) hingga PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) yang memiliki basis pasar domestik kuat, bakal mempertahankan pertumbuhan laba yang sehat.
”Tantangan lainnya masih berkaitan dengan suku bunga tinggi. Takutnya kalau suku bunga tinggi, para investor cenderung memegang dolar AS, emas menjadi kurang menarik. Tapi secara jangka pendek,” katanya.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, menilai prospek emiten emas pada paruh kedua 2026 masih cenderung konstruktif lantaran harga jual masih jauh berada di atas cost produksi. Selain itu, margin operasional emiten emas juga dinilai masih cenderung tebal.
Wafi menilai, koreksi yang terjadi terhadap harga emas, lebih mencerminkan normalisasi ketimbang pelemahan struktural logam mulia.
"Pendorong pada semester dua adalah full ramp up Tambang Pani yang bakal mendorong volume, permintaan emas ritel domestik masih tinggi, dan potensi Fed rate cut dapat menstabilkan harga," katanya, Kamis (2/7/2026).
Meskipun begitu, Wafi memproyeksikan laba emiten emas pada tahun penuh 2026 bakal berada di bawah periode yang sama 2025 karena tingginya realisasi kenaikan harga emas sepanjang tahun lalu.
Emiten dengan volume pertumbuhan yang tinggi, dinilai lebih resilient lantaran dapat melakukan offset atas penurunan harga jual rata-rata dan tetap mencetak pendapatan yang bertumbuh.
Wafi merekomendasikan MDKA lantaran Tambang Pani yang bakal beroperasi berpotensi mengompensasi koreksi harga. Selain itu, MDKA juga dinilai memiliki keunggulan lantaran diversifikasi ke sektor nikel.
Wafi juga merekomendasikan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) lantaran emas menjadi anchor pendapatan perseroan serta diversifikasi ke nikel yang mampu menjadi penyangga.
"Tantangan di luar harga emas adalah rupiah yang lemah berisiko menaikkan cost operasional berbasis impor, potensi revisi royalti dan kewajiban downstream, dan operational execution risk untuk tambang fase ramp-up seperti Pani butuh konsistensi produksi," tambahnya.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





