Harga Emas Menguat Usai Data Tenaga Kerja AS Lesu

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA Harga emas dunia menguat setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan yang memicu surutnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta menekan dolar AS.

Melansir Kitco, Jumat (3/7/2026), harga emas di pasar spot naik 0,06% ke level US$4.124,2 per troy ounce setelah ditutup menguat 2,28% pada Kamis (2/7) dan sempat menyentuh level tertinggi sepekan di US$4.143,60 per troy ounce.

Kenaikan tersebut membuat harga emas naik 2,32% dalam sepekan, sekaligus memutus tren pelemahan harga emas selama empat pekan berturut-turut dan menjadi penguatan mingguan terbesar sejak akhir Mei.

Penguatan harga emas terjadi setelah data nonfarm payroll Amerika Serikat hanya bertambah 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah ekspektasi pasar. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran bertahan di kisaran 4,2%.

Data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan mendorong pelemahan dolar AS dan menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi itu meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Sebelumnya, harga emas sempat tertekan hingga menyentuh titik terendah mingguan US$3.941,87 per troy ounce setelah pelaku pasar masih mempertimbangkan peluang The Fed mempertahankan sikap hawkish menyusul data pembukaan lapangan kerja (JOLTS) dan aktivitas manufaktur yang relatif stabil.

Baca Juga

  • Pasar Tenaga Kerja AS Melambat, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Surut
  • Ramalan Harga Emas Bank Sentral 12 Bulan ke Depan
  • Ramalan Harga Emas Reli Lagi Semester II ke Level US$4.800 di Akhir Tahun

Namun, sentimen berbalik setelah laporan tenaga kerja swasta ADP menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang lebih rendah dan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai tidak memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga berikutnya.

Chief Market Strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski mengatakan pelemahan data ketenagakerjaan Amerika Serikat membuka ruang koreksi dolar AS sehingga memberikan dorongan jangka pendek bagi harga emas.

“Meski meredanya ketegangan di kawasan Teluk masih menjadi sentimen negatif bagi logam mulia, dalam jangka pendek kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga AS mulai berkurang. Kondisi tersebut didukung oleh penurunan harga energi serta data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah pada pekan ini,” jelasnya seperti dikutip Kitco, Jumat (3/7/2026).

Menurutnya, kombinasi turunnya harga energi dan berkurangnya kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga membuat harga emas berpeluang melanjutkan penguatan.

Presiden Adrian Day Asset Management Adrian Day juga menilai laporan ekonomi Amerika Serikat terbaru serta meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi katalis positif bagi logam mulia. Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral masih terus berlangsung.

Survei mingguan Kitco News turut menunjukkan optimisme kembali menguat. Sebanyak 69% analis Wall Street memperkirakan harga emas masih akan naik dalam sepekan ke depan, sedangkan 54% investor ritel juga berpandangan serupa setelah emas kembali menembus level psikologis US$4.100 per troy ounce.

Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) serta data klaim pengangguran mingguan Amerika Serikat untuk mencari petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter The Fed.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usulan Jatah 20 Persen PAD untuk Kepala Daerah Dinilai Keliru, Berpotensi Disalahgunakan
• 9 jam lalukompas.com
thumb
TPNPB Akui Eksekusi Pilot Asal Amerika, Elkius Kobak: Saya Beri Perintah Serang Pesawat
• 19 jam laludisway.id
thumb
Menkeu Purbaya Pastikan Kebijakan Presiden Sudah Hitung Risiko Fiskal
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tawuran Antarkelompok Bawa Parang dan Celurit Pecah di Jalan Bojong Raya Jakbar
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Korban Jiwa Capai 1.000 Lebih, Mengapa Heatwave di Eropa Mematikan?
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.