Prospek Emas Kian Cerah, Harga Diproyeksi Sentuh Rp2,78 Juta per Gram

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga emas dunia diproyeksikan kembali menguat seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong harga logam mulia domestik hingga menyentuh Rp2,78 juta per gram.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan secara teknikal harga emas dunia memiliki peluang menguji level resisten pertama di US$4.248 per troy ons. Pada level tersebut, harga logam mulia di dalam negeri diperkirakan berada di kisaran Rp2,69 juta per gram.

“Kalau seandainya emas dunia itu menguat di resisten kedua itu di 4.348 dolar per troy ons, kemudian logam mulianya di Rp2.780.000 per gram itu data teknikal,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).

Meski demikian, Ibrahim menilai apabila emas mendapat sentimen negatif, penurunan harga diperkirakan tidak akan terlalu dalam. Ia memperkirakan harga logam mulia masih akan bergerak di kisaran Rp2,55 juta hingga Rp2,65 juta per gram.

Menurut Ibrahim, prospek penguatan harga emas terutama didorong oleh perubahan arah kebijakan moneter The Fed. Ia menilai peluang bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga semakin besar apabila inflasi bergerak mendekati target 2%.

“Bank Sentral Amerika kemungkinan besar tidak akan mempertahankan suku bunga tapi akan menurunkan suku bunga nah ini yang membuat apa membuat harga emas ya kembali mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila penurunan suku bunga terjadi bersamaan dengan melemahnya harga minyak dunia, maka harga emas global berpotensi kembali menembus level US$5.000 per troy ons hingga akhir tahun.

Selain faktor suku bunga, Ibrahim juga menyoroti masih kuatnya permintaan emas dari bank sentral berbagai negara. Hingga Mei 2026, bank sentral global tercatat telah membeli sekitar 41 ton emas batangan.

China menjadi pembeli terbesar dengan tambahan sekitar 10 ton sehingga total cadangannya mencapai 2.331 ton. Sementara Uzbekistan menambah sekitar 9 ton menjadi 33 ton, Kazakhstan membeli 7 ton sehingga total kepemilikannya mencapai 361 ton, Singapura menambah 4 ton menjadi 197 ton, Cekoslovakia memiliki sekitar 22 ton, dan Yordania menambah sekitar 1 ton.

Baca Juga: Harga Emas Antam Dibandrol Rp2.670.000 per Gram, Cek Rincian Lengkapnya

Baca Juga: Naik Rp11.000, Harga Emas Antam Kini Dijual Rp2.651.000 per Gram

Menurut Ibrahim, aksi akumulasi tersebut menunjukkan bank-bank sentral memanfaatkan pelemahan harga emas sebagai momentum untuk meningkatkan cadangan logam mulia.

“Ini kesempatan bagi Bank Sentral Global untuk melakukan pembelian terhadap logam mulia karena mereka tahu bahwa ke depan ya Selat Hormus dibuka kembalim kemudian harga-harga minyak turun kemudian Bank Sentral Global menurunkan suku bunga ini akan membuat harga emas dunia terus mengalami lonjakan yang cukup signifikan itu,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG: Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering akibat El Nino, Puncaknya Agustus-September
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Menjaga Mimpi Anak Indonesia Lolos Piala Dunia Lewat Kisah Uzbekistan
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Strava Premium Kini Kena Pajak, Pengguna Sempat Kira Lari Ikut Dipajaki
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Trump bersikeras berpidato di Hari Kemerdekaan meski ada badai petir
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
PM Singapura Bakal Kunjungi Prabowo ke Jakarta pada 6 Juli
• 1 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.