Kyiv: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali mendesak negara-negara Barat memperkuat pertahanan udara mereka setelah serangan rudal dan drone Rusia di Kyiv menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 46 lainnya.
Dalam pernyataannya di platform X pada Senin, 6 Juli 2026, Zelensky meminta Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa menghasilkan keputusan konkret untuk memperkuat sistem pertahanan udara Ukraina pada KTT NATO yang akan digelar di Turki.
"Sangat penting dunia, terutama Amerika Serikat dan mitra-mitra Eropa kami, keluar dari KTT NATO dengan keputusan yang kuat untuk mendukung pertahanan udara kami," tulis Zelensky, dikutip dari Politico, Senin, 6 Juli 2026.
Sehari sebelumnya, Zelensky telah memperingatkan bahwa informasi intelijen menunjukkan Rusia tengah mempersiapkan serangan besar lainnya terhadap Ukraina menjelang KTT NATO yang digelar pekan ini di Ankara.
"Selama rudal Patriot masih tersimpan di gudang persenjataan para sekutu kami, Rusia hanya akan semakin terdorong untuk terus 'menghancurkan' bangunan-bangunan tempat tinggal," ujar Zelensky.
Ia menambahkan bahwa hanya dukungan Barat terhadap sistem pertahanan udara Ukraina yang dapat menjamin "perlindungan bagi kehidupan masyarakat sipil."
"Amerika Serikat dan Eropa memiliki kekuatan yang cukup untuk menghentikan teror ini," katanya. Empat Distrik Kyiv Terdampak Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan serangan Rusia pada Minggu malam menghantam empat distrik di ibu kota Ukraina.
Distrik Podilskyi menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling parah setelah sejumlah gedung apartemen bertingkat terkena serangan langsung. Dari 46 korban luka, tiga di antaranya merupakan anak-anak.
Klitschko menetapkan Selasa sebagai hari berkabung di Kyiv dan mengatakan jumlah korban masih berpotensi bertambah karena operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan.
Sebelum serangan terjadi, Zelenskyy mengatakan intelijen Ukraina mendeteksi adanya persiapan Rusia untuk melancarkan serangan besar menjelang KTT NATO pekan ini.
Serangan terbaru itu terjadi hanya beberapa hari setelah gelombang serangan rudal dan drone Rusia sebelumnya menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 80 lainnya.
Serangan juga berlangsung dua hari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden AS Donald Trump.




