Survei Terbuka IndexMundi Soal Posisi Polri, Peneliti Burhanuddin Muhtadi Singgung Hasil Akhirnya

tvonenews.com
14 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Hasil survei dari IndexMundi Global Surveys belakangan ini memicu perbincangan publik setelah menempatkan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam posisi tertinggi sebagai institusi yang dipersepsikan paling korup di Asia Tenggara. Namun, rilis data tersebut dinilai memerlukan catatan kritis dari sudut pandang akademis karena basis pengumpulan datanya yang dinilai lemah secara ilmiah.

Founder sekaligus Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menegaskan bahwa kritik utama bukan tertuju pada objek yang dinilai, melainkan pada validitas metodologi riset tersebut. 

Menurutnya, kegagalan metodologis membuat kesimpulan akhir dari survei itu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara statistik.

"Kelemahan utama metodologi IndexMundi Global Surveys terletak pada penggunaan survei online terbuka (open web-based polling) tanpa kontrol sampel yang ketat," ujar Burhanuddin saat dihubungi media.

Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta itu menjabarkan, bahwa model pengumpulan data acak di internet tidak mencerminkan realitas populasi yang sebenarnya. 

"Data yang dihasilkan mencerminkan persepsi subjektif pengguna internet, bukan data statistik empiris yang terverifikasi secara ilmiah," lanjutnya.

Secara rinci, Burhanuddin membeberkan beberapa kelemahan mendasar dari sistem yang digunakan IndexMundi Global Surveys. 

Poin pertama yang menjadi sorotan ilmiah adalah adanya bias sampel (sampling bias). Partisipan riset ini sangat terbatas hanya pada individu yang memiliki akses internet, melek teknologi, dan memahami bahasa yang digunakan pada situs tersebut.

Kondisi ini menurutnya mengakibatkan sampel tidak representatif karena tidak dipilih melalui metode acak murni (random sampling) untuk mewakili keseluruhan demografi suatu negara, seperti proporsi usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan, ataupun sebaran geografis.

Selain bias sampel, sistem pengumpulan data tersebut juga dinilai sangat rentan terhadap manipulasi atau self-selection bias. Mengingat partisipasinya bersifat sukarela (volunteer), siapa saja yang kebetulan berkunjung ke situs tersebut dapat mengisi instrumen yang disediakan. 

Dampaknya, opini yang terekam cenderung hanya berasal dari kelompok yang memiliki pandangan ekstrem, baik sangat kecewa maupun sangat puas.

"Tanpa verifikasi identitas, sistem pengisian yang longgar membuka celah bagi satu individu atau kelompok untuk mengisi survei berkali-kali menggunakan VPN atau perangkat berbeda guna memanipulasi peringkat negara tertentu," jelas Burhanuddin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa Dahsyat di Venezuela Tewaskan Lebih dari 3.300 Orang, Lebih dari 100 Anjing Pelacak Berperan Penting dalam Operasi Penyelamatan
• 10 jam laluerabaru.net
thumb
Diduga Rekayasa Lelang Proyek Pabrik Gula, Peran Eks Dirut PTPN XI Diungkap Kortastipidkor
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Meski Diduga Alami Kekerasan Oleh Oknum Polisi, Korban Akui Menyesal Pada Diri Sendiri, Kenapa?
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang Iran, OPEC+ Tambah Produksi
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Dukung Kemenparekraf, Astra International Dorong Perluasan Pasar 100 Brand Indonesia di MASA Singapore 2026
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.