Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal pemerintah tetap terjaga pada paruh pertama 2026. Dalam Laporan Pelaksanaan APBN Semester I yang disampaikan kepada Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Purbaya menyebut defisit APBN hingga Semester I tercatat sebesar Rp 196,5 triliun atau 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Bendahara negara ini mengatakan realisasi tersebut menunjukkan defisit APBN masih berada dalam batas aman dan memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjalankan berbagai program prioritas hingga akhir 2026.
“Berdasarkan realisasi pendapatan dan belanja negara tersebut, defisit APBN Semester I tercatat sebesar Rp 196,5 triliun dengan persentase sebesar 0,76% terhadap PDB. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa defisit APBN tetap dijaga dalam batas aman dan terkendali,” kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Banggar DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7).
Ia mengatakan pemerintah tetap mempertahankan outlook defisit APBN 2026 sebesar Rp 734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB. Proyeksi tersebut masih berada di bawah batas maksimal defisit 3% PDB meski pemerintah menaikkan outlook belanja negara.
Pemerintah memperkirakan belanja negara sepanjang 2026 mencapai Rp 3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu APBN. Outlook tersebut telah memperhitungkan tambahan anggaran sekitar Rp 132 triliun untuk memenuhi kewajiban subsidi dan kompensasi.
“Outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan sebesar Rp 132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah berupa subsidi dan kompensasi,” katanya.
Purbaya mengatakan tambahan belanja juga akan digunakan untuk mendukung program prioritas pembangunan, menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat. Selain itu, tambahan belanja akan digunakan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah, penanggulangan bencana, serta tambahan dana otonomi khusus.
Purbaya optimistis tambahan belanja tersebut tidak akan mengganggu kesehatan fiskal pemerintah. Ia menyatakan defisit APBN hingga akhir tahun tetap dapat dijaga sesuai outlook yang telah ditetapkan.
“Berdasarkan outlook pendapatan dan belanja negara tersebut, outlook defisit APBN tercapai sebesar Rp 734,3 triliun dengan persentase sebesar 2,85% terhadap PDB. Saya yakin kita masih bisa menekan defisit ini ke bawah,” katanya.
Di sisi lain, Purbaya juga menyampaikan pemerintah memproyeksikan pendapatan negara sepanjang 2026 mencapai Rp 3.208,1 triliun atau 101,7% dari target APBN, ditopang oleh penerimaan perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang diperkirakan tetap tumbuh hingga akhir 2026.




