Baru-baru ini, sejumlah waduk di Kota Hengzhou, Nanning, Daerah Otonomi Guangxi, secara berturut-turut melakukan pelepasan air darurat dan mengalami jebolnya bendungan, yang memicu banjir besar dan menyebabkan kerugian besar terhadap jiwa serta harta benda warga. Sejumlah pihak mempertanyakan, seberapa besar bencana ini disebabkan oleh cuaca ekstrem dan seberapa besar dipengaruhi oleh faktor manusia.
Seorang warga setempat berkata:”Bendungan Waduk Liulan jebol. Seluruh desa habis tersapu.”
EtIndonesia.com Sejak 4 Juli, hujan deras terus mengguyur berbagai wilayah di Guangxi. Waduk Liulan, Yunbiao, Sancha, Chayuan, dan beberapa waduk lainnya di Hengzhou mengalami jebol secara beruntun.
Air bah dengan cepat membanjiri desa-desa di hilir. Air mencapai lantai dua rumah-rumah, kendaraan terseret arus, dan banyak warga hanya bisa menyelamatkan diri dengan usaha sendiri.
Rekaman video memperlihatkan dua orang lanjut usia terjebak di atap rumah dan berjalan perlahan di sepanjang bubungan atap sambil menunggu pertolongan. Banyak korban banjir juga meminta bantuan melalui internet.
“Saat ini kota kami, Yunbiao, merupakan daerah yang paling parah terdampak. Tolong sebarkan informasi ini. Yang paling kami butuhkan sekarang adalah perahu karet bermesin berukuran besar. Air di sini sangat dalam sehingga perahu karet biasa tidak bisa mencapai lokasi. Kami berharap informasi ini bisa disebarluaskan,” ujar seorang warga Kota Yunbiao.
Banjir besar tersebut datang sangat cepat dan sangat deras. Banyak warga mempertanyakan apakah bencana ini murni akibat bencana alam atau juga disebabkan oleh kesalahan manusia.
Seorang warga Desa Dutian, yang berada di dekat Waduk Liulan, mengatakan bahwa mereka baru menerima pemberitahuan evakuasi darurat pada pagi hari saat kejadian. Kurang dari 30 menit kemudian, seluruh desa sudah terendam banjir. Banyak rumah hanyut terbawa arus dan sejumlah warga tidak sempat mengungsi sehingga terjebak di dalam rumah.
Hingga kini, pemerintah setempat melaporkan 8 orang meninggal dunia, namun sebagian pihak meragukan angka tersebut dan menduga jumlah korban sebenarnya lebih tinggi.
“Hengzhou yang dilanda banjir kali ini hanyalah sebuah kota setingkat kabupaten dengan jumlah penduduk sekitar 900.000 jiwa. Namun di sana terdapat hingga 1.766 waduk kecil dan bendungan penampung air. Pembangunan waduk dalam jumlah begitu besar oleh pemerintah PKT menyimpan risiko yang sangat besar,” ujar lomentator isu-isu Tiongkok, Zheng Haochang.
“Dengan lebih dari 1.700 waduk dan bendungan yang selama ini kurang mendapat perawatan, ketika banjir datang, bahaya muncul di mana-mana. Sangat sulit untuk mengatasinya,” katanya.
Para analis menilai bahwa selain cuaca ekstrem, bencana ini juga mencerminkan persoalan dalam sistem pemerintahan.
“Pejabat Partai Komunis Tiongkok hanya bertanggung jawab kepada atasan mereka, bukan kepada rakyat. Mereka tidak dipilih melalui pemilu yang demokratis, melainkan ditunjuk oleh atasan. Karena itu, banyak pejabat tidak memberi perhatian yang cukup terhadap persoalan seperti ini. Inilah salah satu penyebab mendasar mengapa bencana besar sering terjadi di Tiongkok—yakni masalah sistem,” ujar Ketua Partai Demokrasi Sosial Tiongkok, Liu Yinquan.
“Kalau melihat bencana kali ini secara khusus, sebenarnya prakiraan cuaca sudah sejak lama dapat memprediksi kapan dan di mana akan terjadi bahaya. Namun peringatan tersebut tidak mendapat perhatian yang memadai dari para pejabat. Seandainya mereka lebih serius sejak awal, melakukan pelepasan air lebih dini, secara ilmiah dan bertahap, kemungkinan besar situasi seperti ini bisa dihindari,” ujarnya.
Analisis tersebut juga menyebutkan bahwa Tiongkok memiliki jumlah waduk yang sangat banyak. Banyak diantaranya sudah tua, kurang terawat, dan memiliki potensi bahaya keamanan dalam jangka panjang. Ditambah dengan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pemeliharaan infrastruktur, risiko terjadinya bencana pun semakin meningkat.
Laporan oleh Chen Yue dan Chang Chun, New Tang Dynasty Television.





