Sutopo (80) tengah duduk di becaknya. Tangannya menggenggam sebuah buku, sementara jemarinya membuka lembar demi lembar halaman. Deretan buku tertata rapi di becak yang terparkir di Jalan Dr. Sardjito, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Kamis (9/7).
Hari ini merupakan pertemuan kedua kumparan dengan Sutopo. Pada 2019, kumparan sempat berbincang dengannya. Ketika itu, dia masih menggunakan becak kayuh.
Selama 22 tahun, Sutopo bergelut dalam gerakan literasi melalui "Becak Pustaka" miliknya. Selama tiga tahun terakhir, becaknya telah berganti. Becak kayuh lamanya dipensiunkan dan diganti dengan becak listrik pemberian Pemda DIY.
"Sudah tiga tahun becak listrik ini," kata Sutopo membuka perbincangan.
Pensiunan PNS Kodim 0734 Yogyakarta ini memulai Becak Pustaka pada 2004 setelah pensiun. Selain agar tetap berdaya dan beraktivitas usai pensiun, Sutopo ingin meningkatkan literasi.
"Untuk buku-bukunya ini sekarang saya sesuaikan dengan keadaan becak ya. Becak saya, saya desain sendiri, pakai tulisan sendiri," kata Sutopo.
Dahulu, Sutopo mangkal di Jalan Tentara Pelajar, Jetis, Kota Yogyakarta, karena setiap pagi harus mengantar pelanggannya yang merupakan siswa SD di sekitar jalan tersebut.
Beberapa tahun kemudian, tempat mangkalnya berpindah ke Jalan Dr. Sardjito setiap pagi. Ada pelanggan yang harus dia antar-jemput tak jauh dari sana.
Di sini, Sutopo mangkal hingga pukul 13.00 WIB. Siapa pun boleh membaca buku koleksinya secara gratis, tanpa harus menjadi pelanggan becaknya.
"Nah, mengapa sampai jam 13.00 WIB? Ya karena usia sudah lanjut. Saya membutuhkan istirahat ya. Kebetulan istri sudah meninggal, saya juga harus istirahat. Jadi dalam bahasa Jawanya tuh ojo ngoyo, jadi rezeki itu ada yang mengatur, Tuhan," kata Sutopo yang memiliki tiga orang anak ini.
Buku-buku yang dibawa mayoritas merupakan novel. Dia juga membawa koran baru setiap hari. Koleksi buku di becaknya diganti setiap hari.
"Di rumah saya ada 200 buku," ujarnya.
Sutopo mengatakan mayoritas koleksi bukunya berasal dari sumbangan perorangan maupun perpustakaan.
Beradaptasi dengan Becak ListrikBertransformasi ke becak listrik membutuhkan adaptasi bagi Sutopo. Becaknya sempat ngadat karena dia membiarkan becak listriknya kehabisan baterai.
"Jadi waktu itu saya masih nol tentang listrik. Jadi sering terlambat ngecas, lalu waktu jarak jauh, di tengah jalan habis. Jadi mengecewakan penumpang, ya. Akhirnya saya tahu, oh ini harus dicas dan ada gambarnya (indikator) itu tidak boleh kurang dari 50 persen," katanya.
Kini, Sutopo telah memahami sistem kerja becak listrik. Dia mengatakan tenaga listrik hanya digunakan ketika jalanan menanjak atau dirinya lelah. Saat jalanan datar, dia memilih tetap mengayuh.
Selalu Ada PembacaPuluhan tahun bergelut di dunia literasi dengan becaknya, Sutopo mengaku minat baca warga Yogyakarta masih tinggi.
"Untuk minat baca itu, terutama anak, itu masih sangat baik. Contohnya ya, waktu anak itu pulang sekolah, dijemput sama neneknya, anak itu bilang, 'Nek, saya enggak mau dijemput nenek, saya mau pulang sama Pak Topo ini, saya sambil baca buku di becaknya,' lalu anak itu naik becak, lalu membaca buku," katanya.
Sutopo mengantar anak itu sampai ke rumahnya. Namun, di depan rumah, anak itu tetap tidak mau turun dari becak.
"Tidak mau turun. 'Lho, ini sudah sampai rumah, nanti gimana?'. 'Tolong, Pak, membacanya belum selesai, diantar ke sekolahan lagi'. Waduh, cilaka saya," kisahnya.
Sutopo kemudian kembali berkeliling sembari anak tersebut menyelesaikan bacaannya.
"Belum selesai dibaca, saya berikan dia, saya tambah satu buku lagi, jadi dua buku," tuturnya.
Becak Pustaka ini juga diminati pedagang pasar yang selama ini kesulitan mengakses perpustakaan.
"Bahkan bakul pasar, ya, ibu-ibu. Itu kan secara otomatis kalau seorang bakul pasar enggak mungkin ya masuk ke perpustakaan yang gedungnya megah dan waktunya juga tersita ke sana," katanya.
Pedagang pasar itu memesan kepada Sutopo untuk meminjam buku tentang masakan.
"Gratis. Waktu juga enggak terbatas, ibunya tinggal pilih," katanya.
Beberapa kali mahasiswa juga datang kepadanya. Kegiatan yang dilakukan Sutopo ini kerap dijadikan bahan penelitian untuk skripsi.
"Saya merasa bahagia, memberi contoh membaca masyarakat, menyediakan buku untuk masyarakat dibaca gratis," kata pria yang sempat kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta ini.
Awalnya Tak Didukung KeluargaSutopo berkisah, awalnya kegiatan ini tidak didukung oleh anak-anaknya. Sutopo diminta menikmati masa pensiun saja.
"Awalnya itu enggak mendukung. 'Pak mbok sudah Bapak itu kan dapat pensiun, enggak usah rekoso-rekoso narik becak'. Tapi kan justru rekoso itu kan sangat bagus, ya," katanya.
Sutopo bilang, dengan menarik becak, dirinya bisa punya banyak teman di jalanan. Aktivitas fisik ini juga bermanfaat bagi kesehatannya.
"Banyak teman yang sudah meninggal, ada yang stroke. Saya belajar dari itu. Oh, saya harus punya kegiatan fisik maupun kegiatan yang memberikan kebaikan kepada masyarakat," pungkasnya.
Sutopo berkomitmen akan terus memperjuangkan literasi masyarakat dengan caranya ini. Dia akan konsisten menjalankan Becak Pustaka miliknya. Liburnya hanya pada hari Minggu dan satu hari kerja untuk mengambil uang pensiun.





