jpnn.com, JAKARTA - Peneliti dari Sekolah Pascasarjana IPB University Indriani mengembangkan model konseling pengasuhan pemberian makan berbasis WhatsApp bernama SEMETON di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Model tersebut merupakan hasil penelitian disertasi yang dipertahankan dalam sidang promosi doktor Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University di Bogor, Rabu (15/7).
BACA JUGA: BKKBN Tegaskan Pentingnya Kolaborasi dan Data Presisi Mempercepat Penurunan Stunting
Indriani mengatakan pengembangan tersebut terbukti efektif memperbaiki sikap dan praktik pemberian makan orang tua untuk pencegahan stunting
SEMETON dirancang sebagai model komunikasi yang dekat dengan keseharian orang tua.
BACA JUGA: Ahli Gizi Sepakat MBG Efektif untuk Memutus Rantai Stunting
“WhatsApp dipilih karena sudah menjadi ruang interaksi sosial yang hidup di masyarakat, sehingga edukasi gizi bisa masuk tanpa terasa menggurui," kata Indriani dikonfirmasi JPNN, Sabtu (18/7).
Jurnalis LKBN ANTARA itu menjelaskan SEMETON diambil dari kata dalam bahasa Sasak yang berarti saudara atau kerabat, sekaligus akronim dari enam komponen model, yakni Sosial, Edukasi, Mediasi, Transmisi, Orientasi, dan Norma.
Adapun penelitian dilakukan pada Juli hingga Oktober 2025 dengan melibatkan 128 responden orang tua anak usia dini yang tersebar di enam lembaga PAUD di Lombok Timur, menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan intervensi penyuluhan dengan video singkat yang didistribusikan melalui WhatsApp secara signifikan meningkatkan sikap orang tua atau pengasuh (p=0,010) dan praktik pemberian makan (p=0,011) pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol.
Namun, Indriani mendapat temuan menarik di mana posisi WhatsApp berfungsi sebagai mediator parsial, bukan pendorong langsung perubahan perilaku.
"Artinya, teknologi saja tidak cukup. WhatsApp efektif ketika menjadi jembatan interaksi sosial antarorangtua dan kader, bukan sekadar kanal penyebaran pesan," ujar dia.
Indriani menjelaskan pendekatan berbasis norma sosial dan kekerabatan menjadi kunci keberhasilan model, karena keputusan pemberian makan anak di masyarakat Sasak tidak hanya ditentukan ibu atau orang tua, tetapi juga dipengaruhi keluarga besar dan lingkungan sosial.
Dia memilih Lombok Timur karena wilayah itu menjadi salah satu kabupaten dengan prevalensi stunting yang masih tinggi di NTB.
“Sehingga intervensi komunikasi yang murah, mudah diakses, dan berbasis budaya lokal dinilai relevan untuk memperkuat program pencegahan stunting pemerintah,” beber dia.
Indriani berharap model SEMETON dapat diadopsi pemerintah daerah, puskesmas, dan kader posyandu sebagai pelengkap layanan konseling gizi tatap muka.
"Model ini bisa direplikasi di daerah lain dengan penyesuaian konteks budaya setempat. Namun, yang penting adalah membangun rasa 'semeton', rasa persaudaraan, dalam mendampingi orang tua," kata dia.
Mahasiswa S3 Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan (KMP) itu dinyatakan lulus setelah diuji secara terbuka oleh Komisi Promosi yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Sumardjo, MS (Ketua), Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc (Anggota) dan Dr. Ir. Umi Fahmida, M.Sc (Anggota), serta Promotor Luar Promosi, yakni Prof. Dr. Sik Sumaedi, MSM., dan Prof. Dr. Ir. Pudji Muljono, M.Si. Ia berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dalam masa studi empat tahun.
Indriani sendiri tidak pernah menyangka bisa menyelesaikan pendidikan hingga ke jenjang doktoral. Pasalnya, ia mengalami kesulitan berbicara saat usia sekolah dasar dan berasal dari keluarga menengah ke bawah. (era/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




