VIVA – Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkap praktik penentuan honor pengacara yang menurutnya sudah menjadi rahasia umum di kalangan praktisi hukum. Dalam pernyataannya, Hotman Paris secara terbuka menjelaskan bahwa nilai honor yang tercantum dalam tagihan kepada klien tidak selalu sepenuhnya merupakan biaya jasa hukum, melainkan dapat mencakup pos lain yang disebut sebagai biaya lapangan atau biaya lobi.
Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian publik karena membahas secara gamblang mekanisme yang diklaim sering terjadi dalam praktik pendampingan hukum, terutama ketika menangani klien dengan perkara besar.
Pengakuan itu pun kembali mengangkat nama Hotman Paris ke tengah perbincangan masyarakat, terlebih di tengah berbagai kontroversi yang belakangan ikut menyeret dirinya.
Hotman Paris mengungkapkan bahwa praktik mark-up honor bukanlah sesuatu yang asing di lingkungan profesi pengacara.
"Jujur aja kita ini pengacara, sudah rahasia umum kita itu kalau kliennya tidak bisa kasih uang cash kita suka me-markup," kata Hotman Paris, mengutip video YouTube Deddy Corbuzier, Kamis 23 Juli 2026.
Ia kemudian memberikan ilustrasi mengenai skema yang dimaksud. Menurutnya, nominal yang tercantum sebagai honor pengacara dapat jauh lebih besar dibandingkan honor jasa hukum yang sebenarnya diterima.
"Honor pengacara 1M, kita mark-up 5M. 4M itu adalah biaya lapangan. Biaya lobi," jelasnya.
Lebih lanjut, Hotman Paris menyebut bahwa praktik tersebut, menurut versinya, telah menjadi hal yang lazim diketahui, khususnya dalam penanganan klien dari luar negeri.
"Itu udah bukan rahasia di kalangan pengacara, terutama orang asing maunya begitu," ujar Hotman Paris.
Ia juga menjelaskan bahwa rincian dalam invoice tetap mencantumkan seluruh nominal sebagai honor pengacara, meski sebagian dana disebut diperuntukkan bagi kebutuhan lain.
"Tapi ditulis di invoice 'Honor Pengacara' tapi sebenarnya honornya 1M, 4M nya untuk lobi. Itu SOP standar pengacara," lanjutnya.
Pernyataan tersebut sontak memicu berbagai respons dari masyarakat. Sebagian menilai pengakuan tersebut cukup mengejutkan karena menyangkut transparansi biaya jasa hukum, sementara lainnya mempertanyakan bagaimana praktik tersebut diterapkan dalam dunia advokat.





