JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali merilis prakiraan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Indonesia untuk periode 13-19 Agustus 2026.
Dalam prakiraan terbaru, hanya satu wilayah yang masuk kategori Frequent (FRQ) dengan cakupan spasial awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen, yakni Samudra Hindia barat Kepulauan Nias.
Posisi zona FRQ tersebut berubah dibandingkan periode sebelumnya, ketika kategori yang sama berada di Samudra Hindia barat Bengkulu.
Meski cakupan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus relatif terbatas, masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan tetap perlu mewaspadai potensi perubahan cuaca.
Baca Juga: BMKG Rilis Potensi Awan Cumulonimbus 8-14 Agustus 2026, Samudra Hindia Barat Bengkulu Masuk Zona FRQ
BMKG mencatat Samudra Hindia barat Kepulauan Nias sebagai satu-satunya wilayah dengan kategori FRQ atau cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen pada periode 13-19 Agustus 2026.
Awan Cumulonimbus merupakan awan konvektif yang dapat tumbuh menjulang tinggi dan identik dengan kondisi cuaca buruk.
Keberadaannya dapat berkaitan dengan hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Bagi aktivitas pelayaran, pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah perairan perlu menjadi perhatian karena dapat disertai kondisi cuaca yang berubah cepat dan berpotensi mengganggu aktivitas di laut.
Sejumlah Wilayah Masuk Kategori OCNLBMKG juga mencatat sejumlah wilayah masuk kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan spasial awan Cumulonimbus antara 50 hingga 75 persen.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG Besok Kamis 13 Agustus 2026: Aceh dan Sumatera Barat Waspada Hujan Sangat Lebat
Di wilayah daratan, potensi tersebut meliputi:
- Aceh
- Riau
- Sumatera Barat
- Sumatera Utara
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Utara
- Sulawesi Barat
- Papua
- Papua Barat
- Papua Pegunungan
- Papua Tengah
Sementara itu, wilayah perairan yang masuk kategori OCNL yakni:
- Laut Natuna Utara
- Laut Sulawesi bagian barat
- Selat Karimata bagian utara
- Selat Malaka bagian tengah dan utara
- sejumlah kawasan di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik
BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus menjadi tiga kategori berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum.
- ISOL (Isolated) menunjukkan cakupan area awan Cumulonimbus kurang dari 50 persen.
- OCNL (Occasional) menunjukkan cakupan area awan Cumulonimbus berkisar 50–75 persen.
- FRQ (Frequent) menunjukkan cakupan area awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.
ISOL 75%
Data merupakan prakiraan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus berbasis model cuaca numerik BMKG untuk periode 13–19 Agustus 2026.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG DKI Jakarta Besok Kamis 13 Agustus 2026, Tidak Ada Potensi Hujan
Informasi tersebut merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan yang dihasilkan menggunakan model cuaca numerik untuk memperoleh gambaran sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah Indonesia.
Prakiraan berlaku selama tujuh hari, yakni 13 hingga 19 Agustus 2026.
Masyarakat yang berada maupun beraktivitas di wilayah yang masuk kategori FRQ dan OCNL diimbau tetap memperhatikan perkembangan informasi cuaca.
Kewaspadaan terutama diperlukan bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di wilayah pesisir dan perairan.
Nelayan serta pelaku transportasi laut juga disarankan memperhatikan prakiraan cuaca terkini sebelum beraktivitas di laut.
Pada periode 13-19 Agustus 2026, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori FRQ masih terbatas pada satu wilayah, yakni Samudra Hindia barat Kepulauan Nias.
Meski demikian, sejumlah wilayah lain tetap masuk kategori OCNL sehingga pemantauan informasi cuaca BMKG tetap diperlukan.
Baca Juga: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok 13-14 Agustus: Ini Wilayah Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- BMKG
- awan Cumulonimbus
- potensi awan Cumulonimbus
- cuaca BMKG
- awan Cb
- peringatan cuaca BMKG





