Tingginya antusiasme masyarakat Indonesia untuk menunaikan ibadah haji ternyata diiringi oleh sebuah tantangan pelik. Tercatat, sekitar 35 persen dari total calon jemaah haji yang telah terdaftar justru memilih untuk menunda jadwal keberangkatan mereka ke Tanah Suci.
Merespons fenomena tersebut, lembaga pelatihan sumber daya manusia ESQ menggelar program pembekalan khusus bagi para jemaah haji tunggu. Program ini tidak hanya berfokus pada kesiapan fisik dan finansial, tetapi menitikberatkan pada kematangan mental dan spiritual calon jemaah.
"Permasalahan di Indonesia, 35 persen orang yang sudah terdaftar itu menunda keberangkatan. Penundaan tersebut didasari bukan hanya karena kendala fisik atau finansial, tetapi karena keimanan. Dorongan keraguan di hati memunculkan alasan seperti merasa belum siap, merasa banyak dosa, atau merasa urusannya belum beres. Ini adalah masalah-masalah mental yang harus segera diselesaikan," jelas Founder ESQ, Ary Ginanjar Agustian, dikutip dari Metro Siang, Metro TV, Minggu 8 November 2026.
Baca Juga :
Inovasi Layanan Haji Antarkan ESQ Tours Travel Kantongi 2 Penghargaan Prominent Awards 2026Penundaan ibadah haji tanpa alasan syar'i yang kuat tidak hanya berdampak pada kesiapan batin, tetapi juga berisiko terhadap status administratif jemaah. Direktur Pelayanan Haji Khusus, Tuti Nianingrum, mengingatkan adanya sanksi tegas bagi jemaah yang terus-menerus menunda pelunasan dan keberangkatan.
"Kami sangat berharap, jika nomor porsi jemaah sudah keluar dan masuk dalam daftar berhak lunas, jemaah tersebut bisa langsung berangkat. Sebab, jika menunda keberangkatan secara berturut-turut, pada tahun ketiga namanya akan otomatis dicoret dari daftar dan tidak dimunculkan lagi, kecuali yang bersangkutan mengajukan permohonan khusus," tegas Tuti.
Oleh karena itu, inisiatif pembekalan holistik yang menyentuh aspek finansial hingga spiritual dinilai menjadi solusi esensial. Hal ini dirasakan langsung oleh Istikhori dan Ayya, pasangan suami istri yang tengah menunggu jadwal keberangkatan bersama rekan-rekan sekantornya.
"Pembekalan yang paling penting adalah meluruskan niat. Seperti yang dijelaskan oleh Pak Ary, kita tidak boleh berangkat dengan hati yang 'kosong'. Rangkaian materi dari ESQ ini sangat membantu kami untuk memastikan bahwa ibadah haji yang akan kami jalani nanti benar-benar bermakna secara spiritual," ungkap Istikhori.
Saat ini, tercatat ada lebih dari 1.000 jemaah haji tunggu yang mendaftarkan diri melalui program ESQ. Lewat pembekalan komprehensif ini, para jemaah diharapkan memiliki kemantapan hati dan tidak lagi menunda panggilan ke Baitullah saat porsi keberangkatannya tiba.




