Bisnis.com, JAKARTA - Pasar saham Amerika Serikat (AS) akan menghadapi awal 2026 dengan volatilitas tinggi seiring memanasnya situasi geopolitik di Venezuela dan menjelang rilis data ketenagakerjaan AS yang berpotensi mengubah arah suku bunga The Fed.
Melansir Reuters pada Senin (5/1/2026) saham-saham Wall Street melemah pada sesi perdagangan terakhir 2025, dengan indeks acuan S&P 500 mencatatkan penurunan bulanan pada Desember.
Meski demikian, indeks tersebut tetap membukukan kenaikan lebih dari 16% sepanjang 2025, menandai tiga tahun berturut-turut dengan pertumbuhan dua digit.
Volume perdagangan terpantau tipis di penghujung 2025, namun awal 2026 diperkirakan akan berlangsung lebih dinamis.
Pada akhir pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington akan menempatkan Venezuela di bawah kendali sementara AS, setelah aparat AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Investor menilai perkembangan di negara kaya minyak tersebut meningkatkan risiko geopolitik global. Setiap gejolak harga minyak diperkirakan akan merembet ke berbagai kelas aset lainnya.
Baca Juga
- Aksi Jual Saham Emiten Teknologi Hantam Wall Street jelang Ganti Tahun
- Minim Katalis, Wall Street Ditutup Merah jelang Ganti Tahun
- Reli Akhir Tahun Menguat, Wall Street Bersiap Cetak Rekor Baru
Selain Venezuela, pasar juga menanti sejumlah faktor pemicu volatilitas lain, mulai dari keputusan Mahkamah Agung AS terkait kebijakan tarif Trump, penunjukan ketua baru bank sentral Federal Reserve, hingga dimulainya musim laporan keuangan emiten.
Pada sesi perdagangan pertama 2026, Jumat (2/1/2026), indeks S&P 500 ditutup menguat tipis seiring reli saham-saham semikonduktor.
Kepala Strategi Pasar Miller Tabak, Matthew Maley menyebut, meski masih berada di dekat level tertinggi sepanjang masa, indeks S&P 500 saat ini bergerak mendatar di sekitar posisi akhir Oktober,
“Pasar sedang mencari arah. Ketika akhirnya keluar dari kisaran ini, itu akan memberi kepercayaan diri besar atau justru memicu kekhawatiran, tergantung ke mana arah pergerakannya,” ujar Maley.
Data Tenaga Kerja Jadi Penentu Arah Suku BungaRilis data ketenagakerjaan AS pada 9 Januari berpotensi menjadi katalis besar bagi pasar. Kekhawatiran atas pelemahan pasar tenaga kerja mendorong The Fed memangkas suku bunga pada tiga pertemuan terakhir sepanjang 2025, di tengah upaya menjaga keseimbangan antara target lapangan kerja penuh dan pengendalian inflasi.
Suku bunga yang lebih rendah menopang pasar saham, namun arah penurunan suku bunga pada 2026 masih belum jelas. Pada pertemuan terakhir Desember lalu, para pejabat The Fed terbelah pandangannya mengenai kebijakan moneter ke depan.
Inflasi juga masih berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2%.
Dengan suku bunga acuan berada di kisaran 3,5%–3,75%, kontrak berjangka Fed funds menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan akhir Januari relatif kecil. Namun, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret mendekati 50%.
“Pelemahan pasar tenaga kerja memberi ruang bagi The Fed untuk mengubah pandangannya terkait pemangkasan suku bunga,” ujar Kepala Investasi North Star Investment Management, Eric Kuby.
Di sisi lain, investor juga mewaspadai risiko jika laporan ketenagakerjaan menunjukkan pelemahan yang terlalu tajam, yang dapat menandakan kondisi ekonomi lebih rapuh dari perkiraan pasar.
Survei Reuters menunjukkan jumlah tenaga kerja AS pada Desember diperkirakan bertambah sekitar 55.000 orang. Pada November, kenaikan tercatat 64.000, sementara tingkat pengangguran mencapai 4,6%, level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
“Jika data ketenagakerjaan mulai turun secara signifikan, itu bisa menjadi sinyal bahwa resesi lebih dekat dari yang diperkirakan banyak orang,” kata Maley.
Sejumlah data ekonomi lain juga akan dirilis pekan depan, termasuk aktivitas sektor manufaktur dan jasa, data pembukaan lapangan kerja, serta indikator pasar tenaga kerja lainnya. Jadwal rilis data kembali normal setelah penutupan sebagian pemerintahan AS selama 43 hari yang sempat menunda banyak laporan penting.
Laporan inflasi utama, yakni indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Desember, dijadwalkan rilis pada 13 Januari.
“Setiap data yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi dan inflasi akan sangat diperhatikan pasar,” ujar Kepala Strategi Pasar Global Wells Fargo Investment Institute, Scott Wren.
Menurutnya, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang moderat dan inflasi yang melandai merupakan lingkungan yang cukup kondusif bagi saham dan aset berisiko secara umum.
Investor juga mulai bersiap menyambut musim laporan keuangan kuartal IV/2025, yang akan dibuka oleh JPMorgan pada 13 Januari, disusul laporan bank-bank besar lainnya.
Dengan valuasi saham yang tergolong tinggi secara historis, pasar sangat bergantung pada pertumbuhan laba perusahaan. Data LSEG IBES menunjukkan laba emiten S&P 500 diperkirakan tumbuh 13% sepanjang 2025 dan kembali meningkat 15,5% pada 2026.
“Untuk membenarkan valuasi S&P 500 saat ini, investor harus percaya pada kombinasi pertumbuhan laba yang solid hingga sangat kuat, serta keyakinan berkelanjutan terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan makro,” ujar salah satu pendiri DataTrek Research, Nicholas Colas.




