Grid.ID - Pandji Pragiwaksono dikenal sebagai salah satu komika yang konsisten mengangkat isu sosial dan politik dalam materi stand-up comedy-nya. Kritik yang disampaikannya kerap memantik perbincangan publik, terutama ketika menyentuh figur-figur politik nasional.
Belakangan, nama Pandji kembali ramai dibahas usai potongan materi stand-up yang menyinggung Gibran Rakabuming Raka viral di media sosial. Namun, jika menilik perjalanan kariernya, kritik Pandji tidak pernah diarahkan pada satu sosok saja.
Dalam berbagai pertunjukan stand-up, Pandji kerap menyentil sejumlah figur politik dan aparat penegak hukum. Sindiran tersebut disampaikan lewat humor satir dengan tujuan mengajak penonton berpikir kritis.
Berikut deretan figur politik dan tokoh publik yang pernah disindir Pandji dalam materi stand-up comedy-nya.
1. Gibran Rakabuming Raka
Nama Gibran belakangan ramai dikaitkan dengan materi stand-up Pandji. Sindiran tersebut muncul dalam konteks kritik terhadap fenomena politik dan kekuasaan yang berkembang di Indonesia.
2. Prabowo Subianto
Pandji juga pernah menyinggung Prabowo dalam materinya. Salah satu sindiran yang cukup disorot publik berkaitan dengan rekam jejak masa lalu dan narasi politik yang berkembang di masyarakat.
“Ngomong-ngomong Prabowo gemoy itu fatal banget ya, lupa ya ada intel di antara kita,” ucap Pandji yang kemudian dikutip lagi melalui tayangan Youtubenya, Kamis (15/01/2026).
3. Dharma Pongrekun
Pandji sempat menyebut nama Dharma Pongrekun saat membahas soal figur pemberani dalam politik. Sindiran tersebut diarahkan pada fenomena masyarakat yang memilih pemimpin hanya karena keberanian, tanpa mempertimbangkan kapasitas.
“Kalau dia berani tapi gila, lho lho lho,” ujar Pandji.
4. Ferdy Sambo
Dalam konteks kritik terhadap aparat penegak hukum, Pandji juga menyinggung kasus besar yang melibatkan Ferdy Sambo. Ia menggunakan contoh tersebut untuk menyoroti persoalan integritas di institusi kepolisian.
Pandji menyampaikan sindiran tersebut sebagai bentuk refleksi atas kepercayaan publik terhadap aparat hukum.
5. Teddy Minahasa
Nama Teddy Minahasa juga muncul dalam materi stand-up Pandji. Ia menyinggung kasus yang melibatkan perwira tinggi Polri tersebut sebagai bagian dari kritik sosial terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
“Nggak semua polisi seperti Irjen Teddy Minahasa,” ucap Pandji.
Pandji menegaskan bahwa sindiran terhadap berbagai figur tersebut bukan ditujukan secara personal. Menurutnya, stand-up comedy adalah medium untuk membahas fenomena dan persoalan struktural yang terjadi di masyarakat.
“Mens Rea itu tidak didesain untuk mengubah para politisi, karena percuma,” kata Pandji.
Ia menilai komedi bisa menjadi sarana kritik yang efektif karena disampaikan dengan cara yang ringan namun tetap tajam. Lewat humor, isu serius dapat diterima oleh publik secara lebih luas.
Di tengah sorotan terhadap materi stand-up politiknya, Pandji memastikan bahwa ia tidak akan berhenti mengangkat isu sosial dan politik. Ia justru tengah menyiapkan pertunjukan stand-up baru dengan tema yang relevan dengan kondisi saat ini.
Dengan konsistensinya tersebut, Pandji menegaskan bahwa kritik melalui komedi akan tetap menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya di dunia stand-up comedy Indonesia. (*)
Artikel Asli




