CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Sebanyak 18 daerah didera deflasi dan 20 lainnya mengalami inflasi. Skala nasional pada Januari secara bulanan, terjadi deflasi 0,15 persen.
Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (2/2/2026), deflasi terdalam terjadi di Sumatera Barat 1,15% dan inflasi tertinggi di Maluku Utara 1,46%.
Di Sulawesi Selatan tingkat inflasi bulanan pada Januari 2026 sebesar 0,47 persen. Emas dan ikan layang pemicunya.
Padahal, pada Januari 2025, Sulsel mengalami deflasi 0,75 persen secara bulanan atau month to month (m-to-m).
Laju deflasi secara nasional Januari 2026 itu bertolak belakang dengan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 11 institusi. Mereka memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan naik atau mengalami inflasi 0,06% secara bulanan (month-to-month/mtm) di Januari 2026.
Inflasi, salah satu indikator perekonomian yang menggambarkan pergerakan kenaikan harga-harga secara umum yang dipantau oleh BPS dengan perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK). Sebailknya jika harga-harga secara umum turun, kondisi itu disebut deflasi.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menuturkan deflasi ini disumbang cabai merah yang mengalami deflasi 0,16%, cabai rawit deflasi sebesar 0,08%. Adapun, bahan pangan lain yang mengalami deflasi yakni, bawang merah 0,07%.
"Deflasi pada bulan Januari ini utamanya didorong oleh komponen harga bergejolak," kata Ateng dalam rilis data BPS, Senin (2/2/2026).
BPS mencatat tingkat inflasi y-on-y komponen inti pada Januari 2026 sebesar 2,45% dengan tingkat inflasi m-to-m dan tingkat inflasi y-to-d masing-masing sebesar 0,37%.



