Pemerintah Inggris sedang mencari bisnis rendah karbon di Indonesia yang sedang membutuhkan investasi di atas US$3 juta atau Rp50 miliar. Lewat program Climate Finance Accelerator atau CFA, pemerintah Inggris menawarkan bantuan teknis dan jaringan untuk membantu para pebisnis ini memeroleh pembiayaan dan investasi.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey mengatakan CFA telah mendukung lebih dari 200 bisnis di seluruh dunia dan membuka jalan untuk kesepakatan investasi bernilai US$400 juta. “Saya senang bahwa program yang sangat sukses ini kini hadir dan meluncurkan siklus pertamanya di Indonesia. Kami memahami bahwa bisnis-bisnis iklim yang tengah mencari pembiayaan dapat menghadapi tantangan untuk menjadi layak menerima investasi,” ujarnya seperti dikutuip dari siaran pers, Selasa (3/2).
Program CFA didanai oleh International Climate Finance (ICF) melalui Departemen Keamanan Energi dan Net Zero Pemerintah Inggris (DESNZ). Selain di Indonesia, pemerintah Inggris menyelenggarakan program ini di sembilan negara lainnya yaitu Vietnam, Kolombia, India, Kenya, Malaysia, Meksiko, Pakistan, Afrika Selatan, dan Thailad. Untuk CFA di Indonesia, pemerintah Inggris bekerja sama dengan PwC Indonesia.
Pebisnis bisa mengakses program ini dengan mengikuti proses seleksi proposal. Masa pengajuan proposal pada 2 Februari hingga 9 Maret 2026. Sekitar sepuluh bisnis akan dipilih dari sektor energi, limbah, pertanian, transportasi, proses industri dan penggunaan produk (Industrial Processes and Product Use/IPPU), serta kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (Forestry and Other Land Use/FOLU).
Bisnis-bisnis yang lolos seleksi akan menerima dukungan selama tiga sampai empat bulan. Dukungan berupa pendampingan kelompok dan satu per satu dari pakar finansial, teknis, serta kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi.
Nantinya, para pebisnis juga berkesempatan mempresentasikan proyek-proyek mereka dalam sebuah acara bagi para investor iklim pada November 2026. Acara tersebut akan membantu pebisnis memperluas jaringan ke calon investor serta menerima umpan balik dari berbagai lembaga pembiayaan.
Dominic mengatakan Indonesia adalah mitra iklim yang penting dan pemain utama dalam aksi iklim global, dan rumah bagi para pengusaha iklim yang berbakat. “Kami berharap dapat memberikan dukungan pada para pelaku bisnis yang terpilih dalam perjalanan mereka guna mendapatkan investasi,” ujarnya.
Presiden Direktur PwC Consulting Indonesia Martijn Peeters mengatakan program ini bertujuan mengubah ambisi menjadi proyek yang layak investasi dan memberikan hasil terukur serta dampak iklim. “Selain meningkatkan kesiapan investasi, CFA mendukung transisi Indonesia secara lebih luas dengan memperkuat kualitas pengembangan proyek, meningkatkan kepercayaan pasar, dan membantu para inovator menavigasi kompleksitas pembiayaan iklim,” kata dia.
Informasi lengkap mengenai program CFA bisa ditemukan di CFA LinkedIn atau CFA website.



