Puncak Gunung Es Kesehatan Masyarakat Desa

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

SIKKA, KOMPAS-Pemeriksaan kesehatan di sejumlah desa menunjukkan tingginya beban kesehatan masyarakat akibat penyakit tidak menular. Berbagai masalah kesehatan ini terutama disebabkan pola konsumsi tidak sehat seperti tingginya konsumsi gula, kebiasaan merokok, dan minum alkohol hingga kurang berimbangnya asupan nutrisi.

"Hasil penelitian kami kali ini di Desa Lela, Sikka, ini juga kami temukan di desa-desa lain. Masyarakat di desa dan kota saat ini dibebani kesehatan yang memburuk karena gaya hidup, terutama oleh pola konsumsi tak sehat dan berimbang," kata Ketua Komisi Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Herawati Supolo Sudoyo, di Maumere, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (4/2/2026).

Penelitian kesehatan yang dilakukan Herawati dan tim dari MRIN-Universitas Pelita Harapan (UPH) di Desa Lela menunjukkan, mayoritas responden mengalami obesitas sentral, yakni mencapai 55,5 persen. Obesitas sentral merupakan penumpukan lemak berpusat di bagian perut yang ditandai ciri-ciri perut buncit dan memiliki lingkar pinggang lebar.

Baca JugaPola Konsumsi Memperburuk Kesehatan, Darurat Cuci Darah di Sikka

Peneliti utama MRIN-UPH, Safarina G Malik mengatakan, responden yang terlibat penelitian sebanyak 164 orang, 63 laki-laki dan 101 perempuan. Usia responden di atas 20 tahun dengan mayoritas 41 - 50 tahun.

Safarina menyampaikan hasil penelitian ini kepada masyarakat Desa Lela. Dia menyebutkan, masyarakat yang memiliki indeks massa tubuh normal 50,6 persen, kegemukan 21,3 persen, obesitas 20,1 persen, dan kurus 7,9 persen. Padahal, mayoritas responden penelitian ini adalah petani dan diasumsikan melakukan aktivitas lebih tinggi.

"Masalahnya pada pola konsumsi kurang sehat. Ini menjadi ironi, karena peserta penelitian mayoritas petani, yang seharusnya memiliki asupan pangan segar lebih beragam. Desa ini juga dekat dengan pantai, sehingga mestinya banyak ikan," tuturnya.

Masyarakat di desa dan kota saat ini dibebani kesehatan yang memburuk karena gaya hidup, terutama oleh pola konsumsi tak sehat dan berimbang.

Pemeriksaan juga menunjukkan, kadar LDL atau kolesterol jahat yang tinggi dan kadar HDL rendah. Hanya 21 persen responden yang memiliki LDL di batas normal.

"Sebagian Besar peserta penelitian mengalami hipertensi," kata Safarina. Responden yang memiliki tekanan darah normal hanya 18,9 persen, pra-hipertensi 40,2 persen, hipertensi tingkat 1 sebanyak 30,5 persen, dan hipertensi tingkat 2 sebanyak 10,4 persen.

Menurut Safarina, faktor risiko hipertensi yang tidak dapat dimodifikasi meliputi umur, jenis kelamin, dan riwayat genetik keluarga. Namun mayoritas hipertensi dari faktor yang dimodifikasi yang terkait gaya hidup seperti kegemukan, kurang aktivitas fisik, diet tinggi lemak, konsumi garam berlebih, merokok, dan konsumsi alkohol.

" Maka, langkah pencegahan yang seharusnya bisa dilakukan untuk mengatasi berat badan berlebih yakni dengan mengatur pola makan sehat dan bergizi, tidak mengonsumsi gula, garam dan lemak berlebih. Selain itu, tidak mengonsumsi rokok dan alkohol," ungkapnya.

Baca JugaPenyakit Tidak Menular Menjadi Tantangan Kesehatan Terbesar di Indonesia

Data riset juga menunjukkan, responden cenderung mengonsumsi gula melebihi ambang yang disarankan. Sebanyak 50 persen dari responden minum kopi dan 89 persen di antaranya ditambah gula, dan 29 persen responden minum teh dan 94 persen ditambah gula. Sebanyak 19,4 persen responden mengalami prediabetes dan 5 persen mengalami diabetes.

Menurut Safarina, sebanyak 70 persen responden laki-laki merokok dan perempuan merokok 24 persen. Konsumsi alkohol juga cukup tinggi, laki-laki 73 persen dan perempuan 27 persen.

"Peserta laki-laki mayoritas menderita asam urat tinggi, mencapai 85 persen. Perempuan 15 persen," kata dia. Penderita asam urat tinggi sebanyak 86 persen perokok dan 79 persen minum alkohol.

Data juga menunjukkan, sebanyak 29,4 persen responden mengalami penurunan fungsi ginjal dan 5 persen mengalami gagal ginjal kronis. Responden dengan masalah ginjal ini 55 persen di antaranya menderita asam urat tinggi, 35 persen pra-hiertensi dan 53 persen hipertensi.

" Peserta penelitian disarankan menjaga kesehatan dengan mengurangi berat badan, kolesterol, tekanan darah, asam urat dan gula darah. Disarankan untuk mengurangi konsumsi gula, makanan tinggi lemak, kebiasaan merokok dan minum alkohol," kata Saranina.

Tren penyakit tidak menular

Asep Purnama, dokter penyakit dalam dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.TC Hilres Maumere mengatakan, data yang ditemukan di Lela ini menggambarkan apa yang terjadi di populasi di Kabupaten Sikka.

" Secara umum, penyakit tidak menular yang dipicu gaya hidup ini tumbuh signifikan. Hipertensi, diabetes, dan masalah ginjal menjadi penyakit yang makin banyak diderita, bahkan di kalangan usia muda," kata dia menambahkan.

Sebelumnya, penelitian di masyarakat Bajo di Kabupaten Sikka, yang mayoritas nelayan, juga menunjukkan tingginya prevalensi obesitas, hipertensi, asam urat, diabetes, hingga penurunan fungsi ginjal.

Baca JugaPenyakit Paru Obstruktif Kronik Paling Banyak Diderita Pria Perokok 

Data terbaru yang disampaikan Asep menunjukkan, data pasien cuci darah di RSUD TC Hillers mencapai 106 pasien. Sebanyak 70 pasien reguler dan pasien daftar tunggu sebanyak 36 orang. Sementara dari Unit Dialisis Rumah Sakit St Gabriel Kewa di Sikka, total pasien cuci darah sebanyak 41 orang dan antrean 1 orang.

"Karena banyaknya pasien cuci darah, saat ini disiapkan pembukaan unit dialisis di Kabupaten Ende dan Kabupaten Flores Timur," kata Asep.

Herawati mengatakan, jika tidak ada perubahan gaya hidup, terutama pola konsumsi yang sehat di masyarakat, maka biaya kesehatan untuk perawatan penyakit tidak menular akan terus membengkak. "Pencegahan penyakit tak menular seharusnya jadi prioritas kesehatan kita," ujarnya.

Selain di Sikka, timnya melakukan riset kesehatan pada masyarakat di Dieng, Bali, Banjarmasin, dan Jayapura. Riset di berbagai daerah ini fokus untuk mengumpulkan data genetika untuk mengetahui asal-usul dan identitas sekaligus mencari kaitan varian genetika dengan risiko penyakit.

" Fenomena yang kami temukan dalam studi di Sikka ini merupakan puncak gunung es. Data di berbagai daerah lain yang kami studi juga menunjukkan tren sama, penyakit tidak menular yang dipengaruhi gaya hidup tumbuh signifikan, termasuk di desa-desa yang mayoritas masyarakatnya petani dan nelayan," ungkapnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perludem Soroti Dampak Ambang Batas Parlemen: 17 Juta Suara Terbuang dan Partai Tak Menyederhana
• 13 jam lalusuara.com
thumb
Masuk Hari Ketiga, Doktif Pastikan Tetap Kawal Praperadilan Richard Lee
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Inovasi Olimpiade Musim Dingin 2026, Dua Kaldron Menyala di Milan dan Cortina
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Bumi Sudah Berubah, Peneliti Ungkap Fakta 66 Juta Tahun Lalu
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kementerian Lingkungan Hidup Perkuat Perlindungan Laut Indonesia sebagai Pilar Ekonomi Biru
• 8 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.