JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah kepadatan KRL Commuter Line Jabodetabek, kursi kosong tak selalu jadi incaran para penumpang di jam sibuk. Ternyata, berdiri di pinggir pintu gerbong kerap menjadi pilihan favorit banyak penumpang.
Area ini dinilai lebih aman dan nyaman dibandingkan berdiri di tengah gerbong yang rawan desakan, terutama saat jam berangkat dan pulang kerja.
Di sudut dekat pintu, terpasang panel akrilik serta tiang penyangga yang kerap dimanfaatkan penumpang untuk bersandar.
Baca juga: Penjaga Palang Pintu Tertabrak KRL di Kebon Pedes Bogor, Korban Terluka di Kepala
Posisi ini membuat tubuh lebih stabil ketika kereta berjalan atau berhenti mendadak, sehingga penumpang tidak harus terus memegang gantungan tangan.
Selain itu, penumpang yang berdiri di pinggir pintu relatif terlindungi dari arus naik-turun penumpang. Keuntungan ini semakin terasa ketika kondisi KRL sedang padat.
Area pinggir pintu juga dilengkapi jendela kaca. Dari balik jendela tersebut, penumpang masih dapat melihat pemandangan luar kereta, membuat perjalanan terasa lebih nyaman meski harus berdiri sepanjang perjalanan.
Kombinasi sandaran, jendela, dan posisi strategis itu membuat area pinggir pintu kerap disebut sebagai spot “premium” bagi penumpang berdiri di dalam gerbong KRL.
Saat kereta dalam kondisi ramai, keuntungan posisi ini semakin terasa. Penumpang hanya perlu sedikit menyesuaikan posisi ketika pintu dibuka, tanpa harus berpindah jauh atau terdesak dari berbagai arah. Tak heran, area ini sering menjadi rebutan, terutama pada jam sibuk.
Rizky (27), penumpang KRL rute Bogor–Jakarta Kota, mengaku sengaja mencari posisi tersebut setiap kali naik kereta. Menurut dia, berdiri di pojok dekat pintu memberikan rasa aman dibandingkan berdiri di tengah gerbong.
Baca juga: Headway 4-6 Menit Lintas KRL Green Line Bukan Mustahil, Ini 4 Syaratnya
“Kalau berdiri di tengah, apalagi jam ramai, badan gampang ke dorong ke mana-mana. Di pojok ini masih bisa sandar dan nggak terlalu kena desakan,” kata Rizky saat berbincang dengan Kompas.com di dalam gerbong, Senin (9/2/2026).
Rizky bahkan memiliki strategi khusus untuk mendapatkan spot favoritnya itu. Ia mengaku sudah hafal posisi berhentinya pintu kereta di peron agar bisa langsung masuk dan menempati pojok sebelum gerbong penuh.
“Biasanya suka pas, kalau kelewat juga enggak jauh. Nah, pas pintu dibuka orang yang baris di depan biasanya ngincer buat duduk, pas semuanya sudah masuk, berebut tempat duduk itu saatnya nangkel di pojokkan pintu ini,” lanjut dia.
Pengalaman serupa diungkapkan Nia (32), penumpang KRL lainnya. Pekerja swasta itu mengaku lebih memilih berdiri di pojok dekat pintu meski terkadang masih tersedia kursi kosong di ujung gerbong.
“Kadang duduk malah nggak nyaman, lutut mepet, tas penumpang lain kena terus. Kalau di sini walau berdiri, rasanya lebih aman dan ada ruang sendiri,” ujar Nia.
Menurut Nia, persaingan tidak tertulis kerap terjadi untuk mendapatkan posisi tersebut. Penumpang yang sudah berdiri di pojok biasanya bertahan hingga stasiun tujuan, sementara penumpang lain menunggu kesempatan ketika area itu kosong.
Baca juga: Jeda Kedatangan KRL Tanah Abang–Rangkasbitung Mau Dipersingkat, Ini Empat Syaratnya
“Biasanya yang diri di dekat pintu itu yang jarak stasiunnya jauh. Tapi kalau ada penumpang yang tadinya nyender di pojok pintu keluar atau turun, pasti langsung diserbu sama penumpang lain,” ucap Nia.
Dalam perjalanan KRL yang kerap padat, penumpang memang tak banyak pilihan. Area pinggir pintu pun menjadi ruang kecil yang memberi rasa aman hingga tiba di stasiun tujuan.
Meski penuh sesak, KRL tetap menjadi pilihan utama masyarakat karena tarifnya terjangkau dan waktu tempuhnya terbebas dari kemacetan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




