Jakarta (ANTARA) - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang juga Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menyampaikan perhatian pemerintah terhadap tradisi meugang bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh menjelang bulan suci Ramadhan.
Dalam rapat koordinasi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera bersama DPR RI di Jakarta, Rabu, Tito menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan kultural masyarakat setempat sebagaimana meugang.
Tradisi meugang, yakni kebiasaan masyarakat Aceh membeli dan mengonsumsi daging sapi atau kerbau menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, yang merupakan bagian penting dari kehidupan sosial warga. Karena itu, pemerintah berupaya memastikan penyintas bencana tetap dapat menjalankan tradisi tersebut meski berada dalam kondisi pemulihan.
"Sebagai bentuk dukungan, pemerintah menyalurkan bantuan sapi kepada masyarakat terdampak, termasuk mereka yang saat ini masih tinggal di hunian sementara maupun yang rumahnya mengalami kerusakan akibat bencana," kata dia.
Baca juga: Sapi bantuan presiden diterima penyintas bencana Aceh Tengah
Menurut Tito, langkah itu merupakan bagian dari pendekatan humanis dalam penanganan pascabencana, agar warga tidak merasa kehilangan seluruh sendi kehidupan sosialnya di tengah proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Ia menambahkan, perhatian terhadap tradisi lokal menjadi elemen penting untuk menjaga kohesi sosial dan semangat masyarakat dalam menghadapi masa transisi menuju hunian tetap.
Satgas percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, lanjut dia, terus mengoordinasikan dukungan lintas kementerian dan pemerintah daerah agar pemulihan berjalan menyeluruh, mencakup pembangunan rumah, infrastruktur dasar, hingga penguatan kehidupan sosial masyarakat.
Pemerintah berharap dengan pendekatan tersebut, proses pemulihan pascabencana di Aceh dan wilayah terdampak lainnya di Sumatera dapat berlangsung tidak hanya secara fisik, tetapi juga memulihkan rasa kebersamaan dan ketahanan sosial warga.
Baca juga: Warga antusias berburu daging "meugang" di pasar Lhokseumawe, Aceh
Dalam rapat koordinasi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera bersama DPR RI di Jakarta, Rabu, Tito menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan kultural masyarakat setempat sebagaimana meugang.
Tradisi meugang, yakni kebiasaan masyarakat Aceh membeli dan mengonsumsi daging sapi atau kerbau menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, yang merupakan bagian penting dari kehidupan sosial warga. Karena itu, pemerintah berupaya memastikan penyintas bencana tetap dapat menjalankan tradisi tersebut meski berada dalam kondisi pemulihan.
"Sebagai bentuk dukungan, pemerintah menyalurkan bantuan sapi kepada masyarakat terdampak, termasuk mereka yang saat ini masih tinggal di hunian sementara maupun yang rumahnya mengalami kerusakan akibat bencana," kata dia.
Baca juga: Sapi bantuan presiden diterima penyintas bencana Aceh Tengah
Menurut Tito, langkah itu merupakan bagian dari pendekatan humanis dalam penanganan pascabencana, agar warga tidak merasa kehilangan seluruh sendi kehidupan sosialnya di tengah proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Ia menambahkan, perhatian terhadap tradisi lokal menjadi elemen penting untuk menjaga kohesi sosial dan semangat masyarakat dalam menghadapi masa transisi menuju hunian tetap.
Satgas percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, lanjut dia, terus mengoordinasikan dukungan lintas kementerian dan pemerintah daerah agar pemulihan berjalan menyeluruh, mencakup pembangunan rumah, infrastruktur dasar, hingga penguatan kehidupan sosial masyarakat.
Pemerintah berharap dengan pendekatan tersebut, proses pemulihan pascabencana di Aceh dan wilayah terdampak lainnya di Sumatera dapat berlangsung tidak hanya secara fisik, tetapi juga memulihkan rasa kebersamaan dan ketahanan sosial warga.
Baca juga: Warga antusias berburu daging "meugang" di pasar Lhokseumawe, Aceh





