Berpuasa Lebih dari Menahan Lapar: Membangun Diri, Merawat Empati

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Puasa sering dipandang sebagai ritual menahan lapar dan dahaga pada jam-jam tertentu, yang mana tubuh tak disuplai makanan dan minuman. Memang itu salah satu bentuknya, tetapi puasa sejatinya jauh lebih dalam daripada sekadar aspek fisik. Ia adalah sekolah batin yang mengajarkan kita tentang kesabaran, kedisiplinan, pengendalian diri, dan yang tak kalah penting: empati terhadap sesama manusia.

Banyak dari kita memulai puasa dengan penuh semangat. Kita menahan lapar, menahan haus, bahkan menahan hawa nafsu sesaat. Namun, sering kali ketika tantangan mulai datang ketika lapar mulai terasa, ketika tugas semakin menumpuk, ketika godaan muncul, kita lupa akan tujuan sejati dari puasa itu sendiri. Kita fokus pada “Apakah aku berhasil menahan lapar?” tanpa menyadari bahwa esensi puasa yang utama adalah transformasi diri.

Transformasi diri itu bukan sekadar soal menahan haus, melainkan juga tentang bagaimana kita menjaga diri dalam keadaan yang paling rawan. Ketika perut kosong dan energi menurun, alih-alih tergoda menjadi mudah marah atau lekas putus asa, puasa justru harus menjadi momen untuk menguji kualitas pengendalian emosi kita. Bukankah menjaga lisan, menjaga perilaku, menjaga tindakan ketika sedang lemah adalah wujud dari kebesaran hati yang sesungguhnya?

Puasa memanggil kita untuk berhenti sejenak dari ego. Ego adalah dorongan kuat dalam diri yang ingin dipuaskan segera. Ketika kita belajar menahan ego, kita belajar untuk tidak bereaksi berlebihan, untuk berpikir sebelum berkata, dan untuk lebih peka terhadap keadaan orang lain. Inilah titik sentral mengapa puasa tidak pernah benar-benar tentang perut kosong—puasa adalah tentang hati yang peka.

Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang orang lain alami, seolah-olah kita berada di posisi mereka. Seseorang yang berpuasa bisa merasakan lapar dan haus, dan melalui pengalaman itu, dia akan mulai memahami bagaimana rasanya mengalami kekurangan.

Ia mulai memikirkan mereka yang setiap hari hidup dengan keterbatasan serta keadaan anak-anak yang tidur tanpa cukup makanan, atau orang tua yang bekerja keras demi keluarga. Dari sini lahir rasa syukur dan empati yang lebih dalam.

Ketika puasa menjadi momen refleksi, kita akan memahami bahwa rasa lapar yang kita rasakan hanyalah sebagian kecil dari apa yang dialami mereka yang hidup dalam kemiskinan atau nasib tak berpihak.

Hal ini seharusnya mendorong kita untuk tidak hanya bersyukur, tetapi juga bertindak. Empati yang lahir dari puasa harus ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata: memberi bantuan, memperhatikan tetangga yang kesulitan, membantu orang yang membutuhkan, atau sekadar memberikan senyuman kepada orang yang berjuang dengan kesendiriannya.

Puasa juga mengajarkan kita tentang ketulusan. Dunia modern sering kali mengarahkan kita untuk mencari validasi dengan pertanyaan "Apakah puasa kita dilihat orang?" dan "Apakah puasa kita dinilai benar?" Namun sesungguhnya, puasa adalah tentang hubungan pribadi antara kita dengan nilai-nilai yang lebih tinggi—nilai kemanusiaan, kebaikan, dan kasih sayang.

Menjaga diri saat berpuasa berarti menjaga ketulusan hati, bahwa semua yang kita lakukan tidak untuk dilihat atau dipuji orang, tetapi demi menjadikan diri kita lebih baik dan lebih bermakna bagi sesama.

Kita juga perlu menyadari bahwa puasa bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Ia adalah proses yang perlu dipelajari dari waktu ke waktu. Ada kalanya semangat tinggi menyertai sahur pertama, tetapi di tengah perjalanan energi kita menurun, tantangan muncul, dan godaan untuk menyerah terasa berat.

Di sinilah juga pentingnya ketekunan terkait bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dengan penuh kasih ketika kita gagal beberapa saat. Empati bukan hanya untuk orang lain, melainkan juga untuk diri sendiri ketika kita jatuh dan bangkit lagi.

Sikap empati yang dikembangkan melalui puasa tidak terbatas pada satu bulan atau era spiritual tertentu. Ia seharusnya menjalar ke lintas waktu, ke seluruh aspek kehidupan.

Misalnya, ketika melihat teman kesulitan menghadapi masalah, kita tidak langsung menghakimi. Kita bertanya, “Apa yang bisa aku bantu?” atau “Bagaimana aku bisa mendengar dan memahami mereka?” Puasa yang membentuk empati sejati akan membuat kita tidak acuh terhadap penderitaan orang lain.

Lebih jauh lagi, puasa mengajarkan kita tentang keadilan sosial. Ketika kita belajar menahan lapar, kita mulai memahami bagaimana ketimpangan hidup memengaruhi banyak orang.

Kita menjadi lebih peduli terhadap mereka yang tidak memiliki akses makanan yang cukup, pendidikan yang layak, kesehatan yang memadai, dan hak-hak dasar lainnya. Dari keluarga kecil, kita diperluas menjadi masyarakat, dan dari masyarakat, kita dihubungkan dengan seluruh kemanusiaan di dunia.

Motivasi dalam berpuasa tidak hanya agar kita dapat menyelesaikan satu periode dengan sempurna, tetapi juga agar kita menjadi orang yang lebih sadar, lebih peka, dan lebih bertindak nyata dalam kebaikan. Rasa lapar ini tidak untuk membuat kita menderita, tetapi untuk membuka mata hati bahwa masih banyak orang yang kesehariannya jauh lebih berat daripada pengalaman kita berpuasa.

Puasa adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan kita untuk menjadi versi terbaik dari diri kita: lembut dalam tutur, bijak dalam sikap, dan cepat dalam membantu. Ia menanamkan pada kita nilai-nilai yang tidak lekang oleh waktu: kasih sayang, kesabaran, ketulusan, dan empati.

Mengakhiri puasa berarti tidak menghentikan semangat yang telah kita rajut di dalamnya. Menutup mulut dari lapar seharusnya menjadi permulaan membuka hati untuk lebih peduli, lebih berbelas kasih, dan lebih berorientasi pada tindakan nyata.

Puasa yang sejati adalah puasa yang mendorong kita untuk terus menjaga diri dan merawat empati dalam setiap langkah kehidupan, yang senantiasa dengan niat baik dan tindakan yang memberi arti.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
LPDP Akui Masih Hitung Pengembalian Dana Alumni AP, Termasuk Bunga Beasiswa
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Cara Chef Hilangkan Bau Perengus pada Daging Kambing
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Redefinisi Peran Pemuda Betawi di Tengah Transformasi Jakarta Menjadi Kota Global
• 16 jam lalusuara.com
thumb
Membedah "Skrip" Kematian dan Dugaan Kekerasan Anak di Sukabumi
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Pasar Gelap Bayi Berkedok Adopsi di Medsos Terbongkar, Apa yang Perlu Diwaspadai?
• 3 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.