BOGOR, KOMPAS.com — Setiap bulan Ramadhan, jalan-jalan utama Kota Bogor kembali dipadati pengemis musiman.
Fenomena ini terlihat jelas seperti di Jalan Padjajaran ataupun Jalan Panduraya.
Para pengemis, baik yang duduk menunggu belas kasihan maupun yang memikul karung dan mendorong gerobak, hadir untuk memanfaatkan momen sedekah masyarakat.
Fenomena ini bukan hanya soal kemiskinan atau kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Mengapa Banyak Pengemis Musiman di Bogor yang Baru Muncul Saat Ramadhan?
Menurut pengamat sosial Universitas Indonesia, Rissalwan Lubis, keberadaan pengemis musiman erat kaitannya dengan budaya sedekah yang menguat selama Ramadhan.
Bulan puasa dianggap sebagai waktu penuh pahala dan kebaikan, sehingga masyarakat terdorong untuk memberi lebih banyak, baik berupa uang, makanan, maupun takjil untuk berbuka puasa.
Intensitas sedekah yang meningkat membuat pengemis musiman lebih banyak dan lebih terlihat dibanding hari biasa, karena suplai kebaikan masyarakat meningkat secara signifikan.
“Hampir di semua khutbah dari pemuka agama di masjid-masjid, di televisi, semua mengarahkan agar orang berlomba-lomba berbuat kebaikan di bulan Ramadhan ini. Salah satu kebaikannya adalah membantu orang lain, memberikan sedekah, dan nanti juga akan ada zakat fitrah di akhir bulan Ramadhan,” ujar Rissalwan saat dihubungi, Rabu (4/3/2026).
Tradisi berbagi ini membentuk siklus tahunan yang menjadi bagian dari budaya sosial masyarakat.
Banyak orang terdorong untuk memberi lebih banyak, bukan hanya kepada kerabat, tapi juga kepada orang-orang yang dianggap lebih membutuhkan.
“Pada saat mudik nanti mungkin untuk kerabat, tapi pada saat ke masjid itu banyak imbauan untuk membantu lebih banyak saudara-saudara yang lebih kesulitan,” jelas dia.
Baca juga: Ramadhan di Jalanan Bogor, Potret Pengemis Musiman Menunggu Belas Kasih Pengendara
Pengemis musiman vs pengemis tetapFenomena pengemis musiman berbeda dengan pengemis reguler yang biasanya hadir sepanjang tahun.
Menurut Rissalwan, perbedaan ini bisa dilihat dari perspektif suplai dan permintaan sedekah.
Ia menilai, pengemis musiman justru jumlahnya lebih banyak dibanding pengemis biasanya karena motivasi masyarakat untuk bersedekah meningkat secara signifikan saat Ramadhan.
"Seolah-olah kalau dia memberi pahalanya kurang besar, kalau di bulan Ramadhan dia merasa akan mendapat pahala lebih besar. Dia akan lebih sering walaupun jumlahnya tidak dia tambah, tapi frekuensinya dia tambah,” ujar Rissalwan.
Menurut dia, meningkatnya frekuensi sedekah ini membuat pengemis musiman terlihat lebih banyak dan terkadang bergerombol di titik-titik strategis.
Jumlah mereka bahkan bisa melebihi pengemis di luar bulan Ramadhan.
Baca juga: Pramono Minta Satpol PP Tindak Pengemis di Jakarta: Tak Cerminkan Kota Global





