Presiden Prabowo: Hormati Kritik, Namun Pembangunan Bangsa Harus Tetap Jalan

disway.id
10 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID– Presiden Prabowo Subianto menyoroti fenomena adanya kelompok masyarakat yang enggan bekerja sama dalam agenda pembangunan nasional.

Meski demikian, Presiden menegaskan bahwa pemerintah tetap menghormati sikap tersebut sebagai bagian dari dinamika demokrasi di dalam keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden dalam Taklimat di hadapan jajaran Menteri, Wakil Menteri, hingga Direktur Utama BUMN di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

BACA JUGA:Lawan Diabetes, BPOM Resmikan Label 'Nutri-Level' untuk Batasi GGL

"Ada satu fenomena yang kita rasakan bersama. Bahwa ada kelompok-kelompok di masyarakat yang mempunyai suatu sikap yang bisa dikatakan sangat tidak mau kerja sama. Kita hormati, kita tidak ada masalah," ujar Presiden Prabowo.

Guna menyederhanakan kompleksitas tantangan yang dihadapi pemerintah, Presiden memberikan perumpamaan tentang warga desa yang tengah bergotong-royong membangun jembatan.

Menurutnya, proses pembangunan tidak boleh berhenti hanya karena segelintir orang memilih untuk tidak terlibat.

Bagi Presiden, kritik merupakan hal yang diperbolehkan dalam ruang publik, namun ia menyayangkan jika kritik tersebut muncul tanpa kontribusi nyata atau justru bersifat destruktif.

"Kalau ada yang tidak mau ikut bangun jembatan, ya tidak apa-apa. Silakan duduk, menonton, bahkan mengkritik. Tapi saya juga tidak mengerti, ada orang tidak mau ikut bangun jembatan, tapi dia kritik: 'Kamu goblok, kayunya salah, pakunya salah'. Salah saja terus, tapi jembatannya tidak jadi-jadi," jelasnya.

BACA JUGA:Prabowo Sebut Melimpahnya Air di RI: Sehari Hujan di Bogor Setara Setahun di Australia Barat

Presiden menegaskan, fokus utama pemerintah adalah memenuhi kebutuhan rakyat, meskipun harus menghadapi berbagai kecaman. "Saya (mungkin) goblok, tapi rakyat desa ini minta jembatan, maka saya bangun jembatan itu untuk rakyat kita," tambahnya.

Lebih lanjut, Presiden mengaitkan fenomena resistensi dan sikap tidak kooperatif ini dengan catatan sejarah panjang bangsa Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa sikap-sikap yang cenderung memecah belah dari dalam sudah ada sejak masa penjajahan, di mana kepentingan asing seringkali dipermudah oleh pihak internal yang didorong oleh kepentingan pribadi.

Presiden memandang fenomena ini sebagai bagian dari sisi gelap kemanusiaan yang harus dikelola secara bijaksana dalam bernegara.

"Jadi ini bukan fenomena baru. Ini biasa. Bibit-bibit dengki, iri, syirik, kebencian, hingga dendam adalah bagian dari manusia. Namun, tugas kita adalah tetap maju membangun bangsa di tengah dinamika tersebut," pungkas Prabowo.

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bos Organisasi Kriminal Internasional Ditangkap di Bali
• 38 menit laluokezone.com
thumb
Ancaman PHK Menguat, KSPI Soroti Lonjakan Biaya Energi dan Impor Kendaraan
• 18 jam lalueranasional.com
thumb
Kesepakatan Gencatan Senjata AS-Iran Disambut Eropa, Harapan Perdamaian dan Stabilitas Energi Menguat
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Kemlu Pastikan 720 WNI Terdampak Gangguan Penerbangan di Timur Tengah Segera Dipulangkan
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Andai David Da Silva dan Osvaldo Haay CLBK di Persebaya, Mampukah Green Force Saingi Persija dan Persib Musim Depan?
• 17 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.