Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) mendapat sejumlah masukan dari investor asal Amerika Serikat (AS), yaitu pemerintah Indonesia disebut harus memperbaiki komunikasi dengan investor AS. Komunikasi harus diperbaiki di tengah baiknya fondasi makro ekonomi RI.
“Soal kebijakan fiskal mereka sudah yakin bahwa kebijakan arahnya sudah benar, mereka beranggapan beberapa lembaga pemeringkat internasional terlalu cepat melakukan perubahan peringkat ke Indonesia, ya seperti pemberian outlook yang negatif, di mana perubahan tersebut dilakukan ketika data ekonomi terkini belum terlalu lengkap,” ujar Purbaya Menkeu pada keterangan tertulisnya yang didapatkan suarasurabaya.net, Selasa (14/4/2026).
Purbaya menegaskan, ekonomi harus terus tumbuh sesuai dengan target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara(APBN). Ini jadi salah satu strategi, agar investor yakin berinvestasi di Indonesia.
“Kita akan terus pastikan ekonomi tumbuh sesuai dengan target yang kita sebutkan. Kalau Indonesia bisa tumbuh 5,5 persen di triwulan I dan pada triwulan II tetap kuat, ini akan serta merta membuat mereka lebih yakin untuk memperbesar investasinya di Indonesia,” ujar Purbaya.
Purbaya memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesi bakal terus tumbuh di tengah gejolak geopolitik global.
“Jadi kita fokus memastikan bahwa kebijakan kita benar, implementasinya kita sesuai dengan design yang kita buat,” kata Purbaya Menkeu.
Sejumlah investor AS yang melakukan pertemuan dengan Menkeu pada Senin (13/4/2026) di New York adalah HSBC Global Asset Management, Lazard AM, Blackrock, Lord Abbett dan TD Asset Management.
Kondisi APBN Indonesia diklaim tetap solid dan mampu jadi shock absorber di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Hingga akhir Maret 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun, atau tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan pendapatan ini utamanya didorong oleh sektor perpajakan yang menunjukkan kualitas basis pajak yang semakin kuat dan pertumbuhan penerimaan pajak secara keseluruhan sebesar 20,7 persen (yoy).
Secara rinci, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mencatatkan pertumbuhan drastis hingga 57,7 persen. Angka ini mengonfirmasi adanya peningkatan aktivitas ekonomi riil di masyarakat. Selain itu, PPh Orang Pribadi (Pasal 21) juga naik 15,8 persen, yang mencerminkan perbaikan kesejahteraan serta peningkatan kepatuhan wajib pajak pasca implementasi sistem Coretax.
Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terealisasi sebesar Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target APBN. Meski PNBP terkontraksi 3 persen akibat fluktuasi harga komoditas di awal tahun, namun capaiannya dinilai masih sesuai jalur.
Terkait belanja, pemerintah mencatat pertumbuhan sebesar 31,4 persen (yoy), dengan defisit APBN hingga triwulan I terjaga di level 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).(lea/ris/ham)



