Empat Pilar Mendidik Putra Tangguh:  Kerja Keras, Mandiri,  Terhubung, dan Berkomunikasi

erabaru.net
12 jam lalu
Cover Berita

Di tengah masyarakat yang mengukur kesuksesan berdasarkan status dan penghasilan, seorang ayah justru menekankan karakter, komitmen, dan kemampuan untuk peduli terhadap orang lain

Jeff Minick

Belakangan ini, banyak perbincangan tentang “krisis maskulinitas” dan bagaimana membentuk anak laki-laki menjadi pria dewasa. 

Dari penulis best-seller Jordan Peterson hingga David Goggins dengan video motivasinya, sampai situs The Art of Manliness milik Brett McKay dan Kate McKay, budaya kita setiap tahun menghasilkan begitu banyak dorongan semangat dan sering kali nasihat berharga tentang pembentukan pria.

Namun, ketika mencari wawasan tentang “metamorfosis” laki-laki ini, penulis memilih untuk melihat lebih dekat ke sekitar penulis—mencari sosok “maharishi kelelakian” yang tidak meraih keuntungan dari buku best-seller atau memiliki jutaan pengikut daring, melainkan seseorang yang penulis kenal, yang anak-anak laki-lakinya yang telah dewasa menjadi bukti nyata bahwa orang tua mereka—terutama sang ayah—telah melakukan sesuatu dengan benar.

Satu orang langsung terlintas di pikiran.

Bekerja Itu Penting

“Iman bisa menjadi hal terpenting bagi anak laki-laki, begitu juga etos kerja—belajar bagaimana bekerja, menjadi bagian dari sesuatu, dan bertanggung jawab atas sesuatu,” kata dokter sekaligus sahabat lama penulis, Tom Rennard.

Rennard, 61 tahun, telah menikah dengan Jeanne selama 34 tahun. Pernikahan itu dikaruniai empat anak laki-laki dan dua anak perempuan. Anak-anak perempuan masih bersekolah, tetapi anak-anak laki-lakinya telah menjadi pria dewasa—berkarier, menikah, dan bahkan menjadi ayah. Dan semuanya belajar nilai kerja sejak dini.

“Mereka harus belajar bekerja,” kata Rennard. “Dan saya tidak berpikir itu dimulai pada usia 22 tahun atau bahkan saat lulus SMA. Itu benar-benar dimulai pada usia delapan, sembilan, sepuluh tahun, bahkan lebih awal. Jeanne dan saya sering mengecat ruangan di rumah, dan anak berusia lima tahun ingin membantu. Saya belajar untuk mengambil piring plastik, menaruh sedikit cat di atasnya, memberi mereka kuas kecil berbentuk spons, dan memberi mereka sedikit bagian dinding untuk dicat. Bagi mereka, itu adalah hal paling menyenangkan di dunia. Memang ada cat yang menetes di sana-sini, tapi kemudian saya tinggal merapikannya. Jadi mereka merasa menjadi bagian dari pekerjaan itu.”

Saat beranjak remaja, anak-anak laki-lakinya mulai membantu, terutama pekerjaan di halaman rumah—kadang dibayar, kadang tidak.

“Sebagai pria muda, kamu perlu berada di dekat pria lain, entah itu ayahmu atau orang lain,” katanya.

Kemudian dua anak tertuanya, Will dan Nathan, memutuskan membuka usaha memotong rumput, yang kemudian diteruskan kepada adik-adiknya. Mereka mengembangkan usaha itu dengan membeli mesin pemotong rumput bekas merek Toro, sementara ayah mereka membantu membeli trailer untuk membawa peralatan. Usaha ini mengisi hari-hari musim panas mereka sekaligus menjadi pelajaran tentang biaya dan tuntutan menjalankan bisnis.

“Mereka belajar bekerja, menghasilkan uang, dan menabung,” kata Rennard.

Rencana “Setengah-Setengah”

Uang yang ditabung keempat anak laki-laki itu membantu membiayai kuliah mereka.

Sebelum Rennard sendiri kuliah, ayahnya—seorang eksekutif di Ford Motor Company di Detroit—menjelaskan bahwa ia boleh kuliah di mana saja, tetapi harus menanggung setengah biayanya sendiri. Karena itu, Rennard bekerja selama kuliah di Stanford University, yang bahkan saat itu sudah mahal.

“Saya bekerja sebagai ‘hashing’, yaitu menyiapkan dan membereskan di klub makan di Stanford,” katanya. “Saya juga bekerja sebagai RA (penanggung jawab asrama) dan bekerja di musim panas, hingga cukup menghasilkan uang untuk membayar bagian saya.”

Rennard menerapkan prinsip yang sama pada anak-anaknya.

“Istri saya sebenarnya tidak setuju,” katanya, “tetapi saya bilang kepada anak-anak saya, ‘Kalian boleh kuliah di mana saja, tapi kalian harus membayar setengahnya.’”

Meskipun mereka mungkin ingin kuliah di Duke University, tempat ayah mereka pernah magang dan menjalani residensi, mereka akhirnya memilih kampus yang lebih terjangkau seperti North Carolina State University dan Clemson University.

“Jadi mereka semua bekerja dan membayar setengahnya,” katanya. “Bahkan mereka lulus dengan masih memiliki tabungan.”

Terhubung

Saat anak-anaknya masih kecil, Rennard sempat gemar bermain golf.

“Tapi saya sadar menghabiskan lima jam di lapangan golf jauh dari keluarga itu bukan keputusan bijak,” katanya. “Kami akhirnya lebih sering berlibur bersama, mendaki, dan berolahraga bersama. Menghabiskan waktu dengan mereka adalah kebahagiaan sekaligus prioritas.”

Hingga kini, meskipun anak-anaknya sudah dewasa, mereka tetap senang berkumpul dan “sangat dekat satu sama lain.”

Rennard juga menekankan peran istrinya, Jeanne, yang selama bertahun-tahun mendidik anak di rumah, serta pentingnya pernikahan mereka dalam perkembangan anak-anak.

“Ini tentang memberi kepada orang lain,” katanya. “Itulah yang membentuk Jeanne—dari ibunya dan dari imannya. Kita seharusnya mencurahkan diri untuk orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri. Pernikahan yang berhasil adalah hal terpenting dalam perkembangan anak.”

Ia juga menekankan pentingnya keluarga sebagai satu kesatuan.

“Saya pikir waktu satu lawan satu dengan orang tua itu sangat berharga, tetapi waktu bersama sebagai keluarga juga sama pentingnya,” katanya. “Kita ingin anak-anak melihat nilai dari memiliki keluarga, menemukan sesuatu yang berharga dalam masa kecil dan perjalanan hidup mereka.”

Percakapan yang Membentuk

Ketika Rennard melatih tim basket homeschool Asheville Trailblazers—tempat semua anak laki-lakinya bermain—ia sering membahas isu-isu terkini saat mengantar mereka ke pertandingan di luar kota. Terkadang pembicaraan itu berkembang menjadi topik pribadi, seperti apa yang membuat pernikahan berhasil atau kualitas apa yang harus dicari seorang pria dalam pasangan hidupnya. Anak-anak dalam mobil itu belajar lebih dari sekadar basket.

Will, anak sulung Rennard yang kini seorang insinyur, baru saja menikah dengan seorang wanita dari keluarga dengan delapan saudara laki-laki.

“Ayah mereka masih mengumpulkan anak-anaknya tiga atau empat kali setahun untuk apa yang ia sebut ‘porch talks’ atau ‘wisdom talks’,” kata Rennard. “Mereka membahas berbagai topik—uang, anak, disiplin, iman, bahkan seks. Ini pada dasarnya waktu untuk berbagi hal-hal yang perlu dipikirkan dan difokuskan oleh para pria.”

Meskipun Rennard belum melakukan hal serupa secara formal, ia mengakui pentingnya pendekatan itu.

“Kita perlu lebih sengaja dalam menjalani hidup—apa yang berjalan baik, apa yang tidak, apa yang penting dalam membimbing, dan apa yang tidak,” katanya.

Tidak Berhenti Saat Mereka Dewasa

Rennard menanggapi pandangan umum bahwa tugas orang tua selesai ketika anak berusia 18 tahun.

Ia justru menyarankan agar peran itu berlanjut hingga sekitar usia 25 tahun—saat anak laki-laki benar-benar matang sebagai pria—sambil terus bertanya:

“Apakah mereka sudah menyelesaikan pendidikan? Apakah mereka punya pekerjaan? Apakah mereka mampu menjalin hubungan dengan lawan jenis dan membangun serta menafkahi keluarga?”

Ia juga mengkritisi standar kesuksesan modern.

“Apa yang saya inginkan untuk mereka di usia 25?” katanya. “Saya ingin mereka menjalani hidup seperti yang saya harapkan—bukan sekadar menjadi dokter atau bankir investasi dengan penghasilan besar, rumah besar, mobil mewah, dan segala hal yang tampak menarik. Apakah semua itu benar-benar memuaskan? Kita semua tahu tidak.”

Bagi Rennard, ukuran sejati kelelakian adalah: mampu bekerja dengan baik, layak untuk menikah, mampu membangun dan menafkahi keluarga, menjadi ayah yang baik, dan hidup dengan iman. Inilah tujuan sejati bagi setiap orang tua dalam membesarkan anak laki-laki.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 PPSU Dijatuhi Surat Peringatan Buntut Manipulasi Laporan JAKI
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kala Madali Maafkan Terdakwa Pemukulan Asisten di Persidangan, Zaskia Mecca Pastikan Hukum Tetap Berjalan
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Pembatasan BBM Subsidi Berdampak pada Distribusi Sembako
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Tekan Potensi Rugi Rp16 triliun, Bendungan Cibeet & Cijurey Dibidik Rampung 2028
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Debat Komisi IX DPR dengan Menkes-Mensos Gegara Kesepakatan Rapat PBI BPJS
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.