Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
1. Apa tujuan utama misi manusia ke Bulan?
2. Mengapa menempatkan manusia di Bulan dianggap penting?
3. Apa tantangan manusia berada di Bulan?
4. Apa itu program Artemis dan tujuannya?
5. Apa kelanjutan dari misi Artemis II?
Pengiriman sejumlah antariksawan ke Bulan menandai kembalinya manusia ke Bulan setelah ditinggalkan lebih dari 50 tahun untuk eksplorasi Bulan lebih berkelanjutan demi menjamin kelangsungan hidup manusia jangka panjang. Ini berbeda dengan yang berlangsung era Perang Dingin yang mengedepankan unjuk kemampuan teknologi.
Bulan bukan dunia sembarangan. Asa Stahl dalam The Planetary Society, 24 Juli 2025, menilai, Bulan merupakan catatan hampir murni tentang masa lalu Tata Surya. Permukaan Bulan adalah artefak kuno yang melestarikan tumbukan dengan asteroid dan komet selama miliaran tahun. Mempelajari Bulan dapat membantu manusia memahami proses terbentuknya Tata Surya.
Meski demikian, kembalinya manusia ke Bulan saat ini memiliki misi yang jauh lebih luas. Bukan hanya mempelajari Bulan, manusia juga ingin mengembangkan peluang ekonomi Bulan serta kemungkinan membangun koloni manusia di Bulan.
Salah satu sumber daya Bulan yang dieksplorasi yakni air di kutub selatan Bulan dalam kondisi beku. Air jadi sumber daya penting untuk eksplorasi antariksa masa depan. Dengan ditemukannya air di Bulan dan mengekstraknya, maka bisa diperoleh air minum, menyirami tumbuhan, oksigen untuk bernapas, hingga pendingin peralatan.
Bahkan, air bisa diolah hingga menjadi bahan bakar roket untuk menggerakkan misi lebih jauh ke bagian luar Tata Surya. Dengan demikian, eksplorasi Tata Surya akan menjadi lebih mudah karena bahan yang dibutuhkan tidak harus dikirim dari Bumi.
Selain itu, Bulan kaya akan berbagai mineral seperti besi, silikon, hidrogen, titanium, dan unsur tanah jarang yang jadi rebutan banyak negara maju saat ini. Bulan juga kaya helium yang berpotensi dijadikan bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir dengan reaksi fusi.
Meski pengiriman antariksawan ke Bulan terlihat heroik, misi ini memiliki risiko tinggi, mahal, dan sering dianggap menghamburkan uang negara. Karena itu, daripada mengirimkan misi berawak, banyak kalangan menilai cukup mengirimkan robot ke planet atau tempat lain di Tata Surya.
Masalahnya, pengiriman robot seperti dilakukan selama ini ke Mars, asteroid, dan planet-planet raksasa lain, tidak membangkitkan kolektivitas dan kebanggaan nasional serta menginspirasi manusia. Perkara ini dianggap jauh lebih penting sebagai sarana investasi untuk mendorong masyarakat maju serta menguasai sains dan teknologi antariksa.
Dibandingkan robot, pengiriman manusia ke Bulan dinilai lebih unggul dalam memakai instrumen. Sebagai perbandingan, wahana penjelajah Mars NASA, Perseverance, harus dioperasikan ahli dari Bumi secara cermat untuk memastikan ke mana dia harus berjalan. Jika dilakukan manusia langsung, antariksawanlah yang akan berpikir, mengambil keputusan, dan bereaksi saat menghadapi hal-hal yang tak terduga.
Saat menemui batuan di permukaan Bulan, manusia juga bisa mengangkatnya sendiri meski bobot batuan itu cukup besar. Cara ini belum bisa dilakukan robot penjelajah seperti yang selama ini dikirimkan manusia setelah misi Apollo.
Selain itu, manusia lebih mampu mengumpulkan sampel dalam jumlah banyak. Misi Apollo yang mendaratkan manusia di Bulan berhasil membawa pulang sampel tanah Bulan 10 kali lebih banyak ketimbang yang bisa dikumpulkan robot.
Kehadiran antariksawan justru penting karena mereka juga bisa berperan sebagai obyek eksperiman untuk berbagai teknologi yang akan digunakan di Bumi. Tenaga manusia lebih diunggulkan dalam pembangunan proyek-proyek besar dan kompleks, seperti pengeboran besar, pemasangan teleskop raksasa, hingga pembangunan pabrik pengolahan tanah Bulan.
Seperti ditulis Space, 11 Februari 2015, suhu saat siang di Bulan bisa mencapai 123 derajat Celsius dan malamnya minus 233 derajat Celsius. Suhu ekstrem di Bulan terjadi karena Bulan memiliki atmosfer amat tipis. Tipisnya atmosfer itu membuat cuaca di Bulan selalu cerah dan tidak memiliki peluang mengalami hujan.
Meski demikian, tipisnya atmosfer Bulan membuat Bulan tak punya perlindungan terhadap radiasi dan tumbukan meteorit. Jadi perlu prakiraan cuaca antariksa yang memprediksi kehadiran meteorit dan partikel berenergi tinggi dari suar Matahari ke Bulan. Karena atmosfer amat tipis, partikel gas di atmosfer Bulan memiliki jarak besar sehingga udara Bulan tidak bisa dipakai untuk bernapas.
Tanah Bulan juga dikenal sebagai debu ”beracun”. Seperti ditulis di situs Badan Antariksa Eropa (ESA), 4 Juli 2018, debu Bulan berupa partikel tajam, berbahaya, serta abrasif atau bersifat keras mirip material untuk memotong dan menghaluskan permukaan benda. Laporan astronot Apollo 17 menyebut, debu yang menempel di pakaian antariksa membuat mata berair dan tenggorokan sakit.
Tantangan lain hidup di Bulan adalah lemahnya gravitasi Bulan. Gravitasi Bulan hanya seperenam dari gravitasi di Bumi. Akibatnya, saat seseorang di Bumi memiliki berat 60 kilogram (kg), maka beratnya di Bulan tinggal 10 kg. Lemahnya tarikan ke bawah di Bulan itu membuat pergerakan manusia di Bulan juga menantang.
Selain kondisi alamiah Bulan, manusia tidak pernah berevolusi di udara, apalagi di luar angkasa dan Bulan. Agar manusia bisa hidup di Bulan, perlu sistem pertanian agar manusia bisa makan. Berbagai tantangan itu harus bisa dipecahkan sebelum manusia didaratkan dan tinggal di Bulan.
Misi Artemis II diluncurkan pada 1 April 2026 dengan tujuan utama untuk menguji kapsul berawak sembari terbang melintas di dekat permukaan Bulan. Misi ini membawa empat antariksawan yang terdiri atas tiga astronot Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA), yaitu Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch, serta astronot Badan Antariksa Kanada (CSA) Jeremy Hansen.
Kapsul Orion dalam misi Artemis II sukses menjalankan misinya, terbang melintas di dekat Bulan. Perjalanan memutari Bulan, tanpa terjebak ke orbit Bulan, selama 6 jam 35 menit itu memberikan banyak pengetahuan baru tentang tetangga terdekat Bumi itu pada manusia. Kapsul itu tiba kembali di Bumi. di Samudra Pasifik di lepas pantai San Diego, AS, Jumat (10/4/2026) petang, waktu setempat.
Ini adalah misi manusia ke Bulan pertama setelah pendaratan terakhir manusia di Bulan dalam misi Apollo 17 tahun 1972. Keempat antariksawan itu juga menjadi manusia pertama yang menyaksikan sisi belakang Bulan secara langsung setelah awak Apollo 8 melihat dan memotretnya pada tahun 1968.
Meski tujuan utama Artemis II adalah untuk menguji kapsul Orion dalam penerbangan berawak yang akan digunakan dalam misi-misi berikutnya, selama terbang melintas di sisi belakang Bulan antariksawan di dalamnya tetap dibebani pekerjaan ilmiah.
Antariksawan juga mengamati kondisi geologi dan variasi warna permukaan Bulan guna mendeteksi komposisi kimia di tanah Bulan. Mereka menyaksikan gerhana Matahari dari luar angkasa, serta uji kesehatan manusia selama di orbit Bulan. Setelah itu, mereka langsung kembali ke Bumi dan butuh waktu sekitar empat hari.
Misi Artemis II mendorong manusia berani menjelajahi kembali antariksa, lebih jauh dari orbit rendah Bumi, secara berkelanjutan. Untuk itu NASA berencana membangun pangkalan di dekat kutub selatan Bulan awal dekade 2030-an. Kutub selatan Bulan diprediksi kaya akan es cair untuk mendukung kehidupan manusia di sana dan bisa diubah jadi bahan bakar roket.
Pencapaian luar biasa riset antariksa AS melalui misi Artemis II berlangsung di tengah upaya China yang menargetkan pendaratan manusia di Bulan tahun 2030. Jika tahun 1970-an AS bersaing dengan Uni Soviet menuju Bulan, kali ini AS bersaing dengan China. AS bertekad mendaratkan manusia lebih dulu di Bulan sebelum China.
Bagi NASA, kesuksesan misi Artemis II akan menentukan keberlanjutan misi Artemis NASA berikutnya melalui misi Artemis III dan Artemis IV. Keberhasilan penuh dari misi Artemis II akan membuka jalan bagi pendaratan manusia kembali di Bulan dalam misi Artemis IV yang direncanakan berlangsung paling cepat pada 2028.
Jika target itu tercapai, rencana pembangunan pangkalan di Bulan yang akan menjadi tempat transit bagi manusia dalam perjalanan menuju Mars pada beberapa tahun sesudahnya juga akan terbuka lebar. Misi Artemis II juga mendorong perlombaan negara-negara lain mengeksplorasi Bulan.
Salah satu tantangan terbesar untuk mendaratkan kembali manusia di Bulan sesuai target waktu yang ditetapkan NASA adalah belum tersedianya wahana pendarat yang akan membawa antariksawan dari kapsul ke permukaan Bulan. Kapsul Orion tidak dirancang untuk bisa mendarat di Bulan atau digunakan sekali pakai karena harus membawa antariksawan kembali ke Bumi.
Saat ini, NASA telah mengontrak dua perusahaan swasta untuk membuat dua wahana pendarat ke Bulan. Mereka adalah SpaceX milik Elon Musk yang membuat roket Starship setinggi 35 meter dan Blue Origin milik Jeff Bezos yang sedang menyiapkan wahana Blue Moon Mark 2 yang lebih kompak. Masalahnya, penyelesaian kedua wahana itu hingga kini terlambat jauh dari jadwal yang sudah ditetapkan.





