Dua kelompok massa aksi mewarnai perayaan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5). Massa aksi tersebut datang dari kalangan guru dan pengemudi ojek online (ojol).
Pantauan kumparan di lokasi, aksi berlangsung kondusif sejak pagi hingga sore hari. Massa mulai berangsur membubarkan diri sekitar pukul 17.00 WIB, meski sejumlah perwakilan demonstran masih beraudiensi dengan pihak DPR hingga berita ini ditulis.
Arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto, tepat di depan kompleks parlemen, sempat tersendat terutama di lajur yang mengarah ke Slipi akibat penyempitan jalan oleh barisan massa. Meski demikian, kendaraan tetap dapat melintas dan tidak terjadi penutupan jalan.
Aksi guru tersebut menjadi salah satu yang paling menonjol. Sejumlah guru dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Barat, NTB, Sulawesi, hingga Lampung, berkumpul sambil membawa spanduk tuntutan. Di sela orasi, massa beberapa kali melantunkan selawat bersama dengan iringan alat musik sederhana seperti botol plastik, galon air, potongan kayu, hingga gendang.
“Kita satu penderitaan. Kita sama-sama merasakan bahwa kita mengabdi lama, tapi ada ketimpangan sosial di institusi pendidikan,” kata Asep Saepurohman (46), guru asal Kabupaten Cianjur, kepada kumparan.
Guru honorer menuntut dua hal utama. Pertama, perubahan regulasi agar guru swasta dan guru madrasah dapat diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK. Mereka menilai aturan dalam Undang-Undang ASN saat ini menjadi penghalang karena hanya memberi ruang bagi guru yang bekerja di lembaga pemerintah.
Kedua, mereka meminta penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen secara penuh, khususnya terkait kesejahteraan guru.
“Masih banyak guru di daerah yang gajinya di bawah Rp 500 ribu. Guru seharusnya minimal mendapat gaji setara UMR,” ujar Asep.
Nada serupa disampaikan Ayila (42), guru asal Sukabumi yang berangkat sejak dini hari untuk ikut aksi.
“Kita sebagai guru swasta, guru honorer yang sudah mengajar bertahun-tahun, tidak pernah mendapatkan kesejahteraan yang seharusnya kita dapatkan. Intinya kita menuntut hak-hak kita,” katanya.
Tak jauh dari barisan guru, kelompok pengemudi ojol juga menggelar aksi bertajuk Aksi Kebangkitan Pengemudi Online Indonesia, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.
Mereka datang dari berbagai komunitas dan organisasi, seperti Serikat Pengemudi Online Indonesia, Serikat Kurir Daring Indonesia, hingga Aliansi Kurir Online. Berbeda dengan aksi guru yang diwarnai selawatan, massa ojol beberapa kali memecah suasana dengan joget bersama di tengah orasi, salah satunya saat lagu Kewer-Kewer diputar dari pengeras suara.
Meski suasana cair, tuntutan mereka cukup serius. Massa mendesak DPR dan pemerintah segera membentuk serta mengesahkan RUU Perlindungan Pengemudi Online.
“Kami bekerja tanpa payung hukum yang layak. Dalam undang-undang kami tidak ada, tapi kami dibutuhkan,” ujar Indra Canu (60), pengurus Serikat Pengemudi Online Indonesia.
Selain payung hukum, para pengemudi juga menuntut kenaikan tarif, penolakan potongan aplikator yang dianggap terlalu besar, penghentian suspend dan putus mitra sepihak, serta jaminan kesehatan dan kecelakaan kerja bagi seluruh driver aktif.
Desi (32), salah satu mitra pengemudi, mengeluhkan rendahnya tarif pengantaran yang dinilai tak lagi sebanding dengan biaya operasional.
“Sekarang lima paket gabungan argo Rp 10 ribu. Cukup apa di zaman sekarang? Oli naik, BBM naik. Kita enggak ada keuntungan sama sekali,” katanya.
Di tengah berlangsungnya demonstrasi, aparat kepolisian juga terlihat membagikan botol air mineral dan roti kepada massa aksi sekitar pukul 14.30 WIB.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung mengatakan langkah itu merupakan bagian dari pendekatan humanis dalam pengamanan.
Sebanyak 4.873 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, TNI, dan Pemda dikerahkan untuk mengawal jalannya demonstrasi.
Hingga sore, suasana di depan Gedung DPR tetap tertib. Massa perlahan meninggalkan lokasi, sementara sebagian perwakilan demonstran masih bertahan di dalam gedung untuk menyampaikan aspirasi mereka langsung kepada anggota dewan.


/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F03%2F17%2F829f1801-35f9-4432-83b8-37bfecdf193d_jpg.jpg)

