Lelucon khas bapak-bapak atau dad jokes yang kerap dianggap garing ternyata memiliki manfaat lebih dari sekadar mengundang senyum.
Penelitian terbaru menunjukkan humor sederhana berbasis permainan kata tersebut dapat membantu menjaga kesehatan otak, mengurangi stres, hingga mempererat hubungan sosial dalam keluarga.
Temuan itu diungkap dalam studi yang dipublikasikan melalui PsyArXiv, repositori pracetak akses terbuka untuk penelitian psikologi.
Penelitian yang dilakukan psikolog Paul J. Silvia dari University of North Carolina at Greensboro dan Meriel I. Burnett dari University of Massachusetts Amherst menemukan bahwa dad jokes memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari bentuk komedi lainnya.
Menurut para peneliti, lelucon ala bapak-bapak umumnya mengandalkan permainan kata, plesetan, dan struktur humor yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan usia.
Berbeda dengan komedi yang membutuhkan konteks sosial atau pengetahuan tertentu, dad jokes lebih mudah diterima dan dinikmati lintas generasi. Kondisi ini menciptakan ruang interaksi yang memungkinkan orang tua dan anak berbagi tawa bersama.
Dilansir dari Antara pada Rabu (24/6/2026), penelitian tersebut juga mengungkap bahwa aktivitas tertawa memiliki dampak biologis yang signifikan terhadap tubuh dan otak. Saat seseorang tertawa, kadar hormon stres seperti kortisol dan epinefrin cenderung menurun.
Sebaliknya, tubuh meningkatkan produksi senyawa kimia yang berkaitan dengan rasa bahagia, seperti dopamin, serotonin, dan endorfin.
Temuan ini sejalan dengan tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One pada 2023. Studi tersebut menemukan bahwa satu sesi tertawa dapat menurunkan kadar hormon kortisol lebih dari 36 persen.
Penurunan tingkat stres itu berdampak positif pada aktivitas otak, khususnya pada korteks prefrontal yang berperan dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan pemrosesan ide-ide kompleks.
Selain membantu mengurangi stres, kemampuan memahami permainan kata dalam humor juga dikaitkan dengan peningkatan kemampuan verbal, kreativitas berpikir, serta keterampilan menghubungkan berbagai makna yang berbeda.
Jacqueline Harding pakar perkembangan anak usia dini dari Middlesex University menjelaskan bahwa tawa pada anak bukan sekadar respons spontan terhadap hal lucu, melainkan bagian dari proses perkembangan otak yang sehat.
Dalam bukunya “The Brain That Loves to Laugh”, Harding menyebut kegembiraan merupakan fenomena biologis kompleks yang membantu anak menghadapi tekanan, membangun ketahanan mental, serta meningkatkan kesiapan untuk belajar.
“Harapan dan humor tampaknya bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan bagian mendasar dari resep perkembangan yang sehat,” tulis Harding.
Manfaat humor juga dirasakan dalam hubungan keluarga. Tertawa bersama diketahui dapat meningkatkan produksi oksitosin, hormon yang berperan dalam memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Selain itu, momen berbagi tawa mendorong terjadinya co-regulation, yakni proses ketika individu saling membantu mengelola emosi melalui interaksi sosial yang positif. Mekanisme ini membantu mengurangi stres sekaligus menciptakan rasa aman dalam hubungan keluarga.
Menurut Harding, aktivitas bermain yang spontan, kreatif, dan penuh kegembiraan merupakan salah satu cara paling efektif untuk mendukung perkembangan otak karena bekerja hingga tingkat molekuler.
“Permainan spontan yang penuh kegembiraan merupakan penawar stres karena meningkatkan kadar endorfin yang dilepaskan oleh otak,” kata Harding. (ant/saf/ipg)




