Kocar-kacir Profesional Bekerja Sampingan

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Bayangkan, Anda sudah menggenggam ijazah bergelar sarjana demi mendapatkan satu pekerjaan layak, tetapi realitas berkata lain. Gaji dari profesi yang digeluti tak cukup sehingga kerja sampingan pun turut diandalkan.

Itulah realitas yang dialami profesional Indonesia. Olahan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas, jumlah pekerja sampingan melonjak 69 persen dari 12,4 juta orang pada 2010 menjadi 21,1 juta orang pada 2025.

Kenaikan itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk bekerja dalam rentang waktu yang sama, yakni 34 persen. Temuan tersebut dihitung dari data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional Badan Pusat Statistik (Sakernas BPS) Agustus 2010 dan 2025.

Berdasarkan jabatan pekerjaannya, kelompok profesional yang bekerja tambahan meroket 11,6 kali lipat dari 116.436 orang pada 2010 menjadi 1,35 juta orang pada 2025. Adapun menurut pendidikannya, kelompok diploma 4 (D-4) dan strata 1 (S-1) yang bekerja sampingan meningkat hampir empat kali lipat dari 40.356 orang menjadi 154.452 orang.

Baca JugaGaji Cekak, Jutaan Profesional Terpaksa Kerja Sampingan

Makin banyaknya sarjana yang bekerja sampingan disebabkan cekaknya pertumbuhan gaji mereka terhadap lonjakan pengeluaran bulanan per kapita. Dari publikasi BPS, Kompas menghitung, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan naik 217,3 persen sepanjang 2010-2025. Namun, upah pekerja yang bergelar D-4 dan S-1 hanya tumbuh 87,3 persen pada periode yang sama.

Keamanan kerja goyah

Pekerjaan sampingan juga terpaksa digeluti akibat goyahnya keamanan pekerjaan (job security) di Indonesia. Kebijakan ketenagakerjaan yang melonggarkan skema perjanjian kerja waktu tertentu dengan masa kontrak tertentu membuat masa bekerja memendek. Imbasnya, pegawai mau tak mau memiliki pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Baca JugaMasa Kerja Sarjana Semakin Pendek

Persoalan itu mengemuka lewat temuan Kompas dari publikasi BPS berjudul ”Keadaan Angkatan Kerja Agustus 2017 dan 2024 di Indonesia” yang menunjukkan, rata-rata masa kerja (job tenure) pegawai tamatan perguruan tinggi turun dari 9,5 tahun pada 2017 menjadi 9,2 tahun pada 2024. Keamanan kerja yang goyah juga tecermin dari kenaikan pekerja informal lulusan perguruan tinggi dari 2 juta orang menjadi 3,5 juta orang dalam periode sama.

Kerja sampingan tidak terpenuhi berdampak pada kerja berlebihan, terutama pada kelas menengah. Kompas mendefinisikan overwork sebagai bekerja lebih dari 49 jam dalam sepekan.

Zalfa (24), warga Banten, memanggang cheesecake sebagai kerja sampingan. Memandu siaran langsung jualan daring menjadi pekerjaan utamanya.

Setelah memanggang kue pada pukul 09.00, dia mengisi siaran langsung pada pukul 15.00. Di hari yang sama, dia menyelesaikan sif pertamanya pada pukul 06.00.

Zalfa bekerja sampingan untuk membantu uang kuliah adiknya serta tabungan ibadah umrah kedua orangtuanya.

Dari olahan data Sakernas Agustus BPS, jumlah pekerja calon kelas menengah dan kelas menengah yang kerja berlebihan sebanyak 5,82 juta orang pada 2010. Namun, pada 2025, angkanya melambung 2,5 kali lipat menjadi 13,83 juta orang. Bahkan, ada 22.849 orang di antaranya bekerja lebih dari 21 jam sehari, selama tujuh hari akibat melakoni pekerjaan sampingan.

Gawai tambahan juga memunculkan ironi dalam pasar kerja. Lowongan yang mestinya bisa diisi penganggur justru diambil pegawai. Menurut pengelompokan pendidikan, rentang usia, dan provinsi, ada 3,39 juta orang atau 46 persen dari total penganggur yang berpotensi menempati posisi pekerja sampingan.

Baca JugaIroni Pasar Kerja: Penganggur Bersaing dengan Pekerja Pencari Sampingan
Bukan jaminan

Dalam pasar kerja sampingan, gelar sarjana tidak menjamin. Ketika melakoni kerja sampingan, 29,7 persen pegawai tamatan diploma dan 27,9 persen sarjana mengambil kerja tambahan sebagai tenaga usaha jasa dan penjualan. Padahal, jenis pekerjaan ini mayoritas diambil oleh tamatan sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan sebagai gawai utama.

Sebaliknya, sejumlah kecakapan dapat menjadi magnet pekerja lepas sebagai sampingan. Hasil olahan data dari web-scrapping Sribu.com, pelantar bagi pencari kerja lepas mempromosikan keahliannya, menunjukkan, 10 jasa terlaris terdiri dari menambah pengikut media sosial, desain logo dan kemasan, menghapus akun Facebook, membuat artikel dan blog, gambar dan ilustrasi, monetisasi Youtube, pembuatan web, mengelola lokapasar, serta menulis naskah nara (copywriting).

Pekerjaan sampingan juga terpaksa digeluti akibat goyahnya keamanan pekerjaan (”job security”) di Indonesia

Kerja sampingan dapat bersifat paruh waktu. Dari olahan data web-scraping Jobstreet.com, syarat latar belakang akademik mayoritas lowongan kerja paruh waktu, tidak ada minimal pendidikan. Keahlian yang dicari pihak perekrut terdiri dari komunikasi yang baik, kemampuan bekerja dalam tim dan mengajar, bahasa Inggris, serta teliti, kreatif, dan sopan.

Serial Artikel

”Overwork” Kelas Menengah Naik 2,5 Kali Lipat dalam 15 Tahun

Jumlah kelas menengah Indonesia yang bekerja melebihi batas normal selama 15 tahun terakhir meningkat drastis, baik pada pekerjaan utama maupun sampingan.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AC Milan Gigit Jari, Jurnalis Inggris Sebut Bintang Manchester United Batal Gabung Rossoneri Musim Panas Ini
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Rano Karno Ungkap Nasib Baru TPST Bantargebang
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
RUPST KB Bank Syariah Setujui Penguatan Modal dan Ekspansi Ekosistem
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Jangan Sekadar Evaluasi, DPR Desak Prabowo Stop Latihan Militer SPPI
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PHK 2.500 Karyawan Pakerin Tak Terhindarkan, Pemerintah Siapkan Rp159 Miliar untuk Bayar Pesangon
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.