Mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Yunus Husein, mendukung pengusutan tiga perkara korupsi yang ditangani oleh Polri. Ia berharap dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dari kasus tersebut juga diusut.
"Kita harus dukung kalau penegakan hukum itu profesional, adil dan transparan, kita dukung penuh. Ya, saya dukung penuh," kata Yunus saat dihubungi, Jumat (10/7/20260).
Ia ingin perkara ini ditangani sampai tuntas hingga membongkar aktor intelektualnya. Yunus menyebut jika koruptor tak diberantas, maka negara akan bangkrut.
"Sampai ke akar-akarnya, sampai ke puncak-puncaknya harus dibersihkan. Kalau nggak ya Republik ini bisa bangkrut sama koruptor-koruptor ini," ucap dia.
Yunus menjelaskan pada dasarnya korupsi bisa terjadi lantaran keserakahan atau kebutuhan. Ia menyoroti barang bukti fantastis yang ditemukan Polri mengarah pada tindak pencucian uang.
"Ya, jadi begini. Korupsi itu kalau kita bagi dua, satu korupsi karena keserakahan atau korupsi karena kerakusan, itu greedy corruption ya, besar jumlahnya. Yang kedua, korupsi karena kebutuhan, needy corruption, kecil. Untuk makan, masuk septic tank," kata Yunus.
"Nah kalau greedy corruption itu, saking besarnya uangnya berapa ratus miliar ya, kemudian emasnya 74 kilo, dia nggak habis makan sendiri. Dia akan muntah. Karena itu dia pasti sembunyikan dan samarkan asal-usulnya. Itulah yang namanya cuci uang," sambungnya.
Yunus menyoroti barang bukti dari kasus 3 korupsi, terdiri dari uang tunai hingga emas batangan. Ia menyebut harta itu sebagai anonymous asset type atau jenis aset yang sulit dilacak.
"Yang kedua, dengan membeli emas atau taruh uang tunai, itu salah satu modus cuci uang yang namanya anonymous asset type ya. Tipe aset yang tidak ada namanya, tidak ada jejaknya, tidak ada paper trail-nya. Misalnya uang, emas batangan, permata, berlian, makanan," kata Yunus.
"Jadi dengan anonymous asset type ini, modus cuci uang untuk menghilangkan asal-usulnya. Ya dia ini termasuk modus dari TPPU dari pelaku, dalam rangka menyembunyikan asal-usul harta itu," tambahnya.
Yunus menilai sudah ada indikasi pencucian uang dari kasus yang diselidiki Polri. Ia memandang ada kesengajaan atau niat jahat ketika pelaku meletakkan emas hingga miliaran uang di dalam brankas berukuran besar.
"Jadi udah kelihatan indikasi cuci uangnya udah kelihatan. Dan tidak perlu dibuktikan sengaja apa nggak. Loh kalau dibuat brankas sedemikian rupa, ditaruh seperti di dinding itu, yang menyerupai dinding padahal itu ada brankas, gitu kan sudah direncanakan. Bangunannya, tempatnya, peruntukannya. Sengaja apa nggak? Pasti sengaja, nggak mungkin nggak sengaja orang buat brankas khusus itu, pasti sengaja," ujarnya.
Polda Metro Jaya sebelumnya melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi pada Rabu (8/7) kemarin terkait tiga dugaan korupsi yakni PLN, ASABRI dan Krakatau Steel. Di antaranya, polisi menggeledah sebuah money changer dan kafe de'Clan Signature kawasan Cipete, Jakarta Selatan (Jaksel) hingga rumah di kawasan Bogor, Jawa Barat (Jabar).
Polisi menyita sejumlah barang bukti dalam proses penggeledahan, mulai dari emas batangan hingga valas senilai miliaran rupiah.
Rentetan penggeledahan itu terkait tiga kasus dugaan korupsi. Kakortas Tipikor Polri, Irjen Totok Suharyanto, menyebut pengusutan kasus-kasus itu ditangani bersama atau joint investigation dengan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.
Dia mengatakan kasus-kasus itu terkait dugaan korupsi pengadaan batu bara yang memicu blackout, kasus ASABRI, hingga kasus penyelesaian utang dari PT CBS kepada PT KNI yang merupakan anak perusahaan BUMN Krakatau Steel.
Terbaru polisi menggeledah ruko di Cipete Jakarta Selatan. Satu per satu penyidik keluar dari ruko dan memboyong sejumlah barang bukti, mulai dari koper besar, tas jinjing warna kuning, hingga monitor komputer.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menegaskan pengusutan kasus dugaan korupsi di PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel ini menjadi atensi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
"Ini merupakan atensi Bapak Presiden untuk dugaan-dugaan kasus korupsi menjadi perhatian kepolisian untuk melaksanakan pengungkapan dan proses penyidikan. Rangkaian penggeledahan ini bagian dari proses penyidikan di dalam mencari, mengumpulkan barang bukti untuk pemenuhan dalam proses penyidikan," kata Budi Hermanto seusai penggeledahan di Cafe de'Clan, Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (8/7).
Budi mengatakan penggeledahan ini bagian dari pengungkapan dugaan korupsi batu bara di PLN yang memicu blackout di Sumatera beberapa waktu lalu, ASABRI, dan Krakatau Steel. Kasus korupsi yang diusut meliputi suap, gratifikasi, dan pencucian uang.
"Dari Kortastipidkor bersama Polda Metro Jaya dalam melakukan penyidikan dugaan kasus korupsi meliputi suap, gratifikasi, dan pencucian uang. Ada beberapa lokasi saat ini secara serempak dilaksanakan rangkaian penggeledahan, termasuk di lokasi sekarang di Cafe de'Clan dan Coin Money Changer. Ini kaitan tentang dugaan korupsi blackout batu bara PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel," ujarnya.
(dwr/imk)





